Saturday, 11 Sya'ban 1441 / 04 April 2020

Saturday, 11 Sya'ban 1441 / 04 April 2020

Wiranto: Membangun dari Perbatasan Bukan Omong Kosong

Selasa 19 Mar 2019 18:13 WIB

Rep: Dian Erika Nugraheny/ Red: Ratna Puspita

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto (tengah)

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto (tengah)

Foto: Republika/Mahmud Muhyidin
Wiranto mengatakan masih ada pihak yang sinis dengan kebijakan pembanguan perbatasan.

REPUBLIKA.CO.ID, MOROTAI -- Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam), Wiranto, mengatakan pembangunan dari kawasan perbatasan dan pinggiran bukan merupakan omong kosong. Menurut dia, pembangunan dari perbatasan sangat penting untuk kehidupan bangsa Indonesia di masa datang. 

Baca Juga

Wiranto mengatakan masih ada pihak yang sinis dengan kebijakan membangun dari daerah perbatasan. Ia pun mempertanyakan motif pihak-pihak yang sinis dengan pembangunan perbatasan.

"Kalau ada orang sinis pembangunan perbatasan itu untuk apa? Saya sendiri heran mengapa masih ada yang menyebut demikian. Kalau ada yang bilang hal itu omong-kosong, saya mau ketemu orang itu, biar saya jelaskan," ujar Wiranto kepada wartawan usai meninjau Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SPKT) Daeo Majiko, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, Selasa (19/3). 

Dia menegaskan, berkomentar seperti itu mudah. Namun, masyarakat perlu memahami bahwa kehidupan Indonesia sebagai bangsa di masa depan tidak lepas dari ancaman melalui daerah perbatasan. 

Ancaman itu bisa berupa narkoba, paham radikalisme, illegal logging (pembalakan hutan secara liar) dan illegal fishing (penangkapan ikan secara liar oleh asing) dan human trafficking (perdagangan manusia). Dari masalah tersebut, ia menyebutkan radikalisme dan terorisme menjadi ancaman nomor satu.

"Karena perbatasan kalau tidak kita awasi secara ketat, ideologi atau gerakan ekstrem dari luar nanti sangat mudah masuknya dari daerah perbatasan. Kalau nanti daerah perbatasan terpapar ideologi lain berarti itu ancaman. Belum lagi soal illegal loging, perdagangan manusia, narkoba, kan ancaman nyata yang sekarang kita hadapi," jelas Wiranto. 

Kemudian, soal penyelundupan narkoba, ada sekitar 1.400 jalan tikus atau jalur tidak resmi di Kalimantan Utara yang diduga menjadi lokasi masuknya benda haram tersebut. Lewat jalur yang tidak resmi itu, kata dia, tidak bisa diperkirakan berapa jumlah narkoba yang diselundupkan tetapi tidak terpantau oleh aparat kemanan. 

Wiranto mencontohkan, ketika ada pemusnahan hasil sitaan narkoba oleh BNN, hanya terpantau di bawah 10 ton. "Yang tertangkap jumlahnya hanya sekian toh itu. Kemudian yang tidak tertangkap berapa? Itulah yang kemudian mengilhami kita bahwa membangun perbatasan itu juga memperkuat perbatasan," tegas dia. 

Wiranto mengungkapan wilayah perbatasan Indonesia membentang sepanjang 99 ribu kilometer. Jumlah ini merupakan terpanjang kedua setelah Kanada yakni sepanjang 200 ribu meter. 

Jika wilayah perbatasan yang luas itu tidak diperkuat, Wiranto khawatir negara Indonesia akan rapuh. "Kalau tidak memperkuat perbatasan, ancaman itu menjadi besar. Dan kalau ancaman besar, maka tentu membahayakan kelestarian negeri ini. Terorisme semakin banyak jika kita tidak menjaga perbatasan," tambahnya. 

Pada Senin (18/3), Wiranto mencanangkan Gerakan Pembangunan Terpadu Daerah Perbatasan (Gerbangdutas) di Kabupaten Pulau Morotai. Pencanangan ini merupakan yang keempat kalinya, setelah sebelumnya diawali di Kalimantan Utara dan Maluku (2015), Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 2016 dan Papua (2018). 

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA