Thursday, 26 Jumadil Akhir 1441 / 20 February 2020

Thursday, 26 Jumadil Akhir 1441 / 20 February 2020

AHY Bicarakan Hal Ini dengan Wiranto

Jumat 22 Mar 2019 22:39 WIB

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Andri Saubani

Ketua Kogasma Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), di kantor Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (22/3).

Ketua Kogasma Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), di kantor Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (22/3).

Foto: Republika/Ronggo Astungkoro
AHY hari ini menemui Wiranto di Kantor Kemenko Polhukam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Komandan Kogasma Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menemui Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto di Kantor Menko Polhukam, Jakarta Pusat, Jumat (22/3) siang. Kunjungan tersebut dalam rangka menyampaikan rekomendasi jelang pemilu 2019.

“Rekomendasi yang pertama terkait dengan bagaimana kita bisa mencegah atau paling tidak memitigasi polarisasi yang kami rasakan semakin kental di tengah-tengah masyarakat kita karena perbedaan pilihan politik,” kata AHY dalam keterangan resmi, hari ini.

AHY menyampaikan minimnya hal substansi mengenai pilpres yang muncul ke permukaan. Ia merasa mendapat kesan bahwa kontestasi, khususnya dalam hal pilpres muncul argumentasi atau alasan memilih jauh dari substansi.

"Padahal dalam pemilu kita berharap ada kontestasi dalam hal gagasan, termasuk juga kebijakan ataupun program-program yang ditawarkan kepada rakyat lima tahun mendatang,” ucapnya.

Ia menilai, dalam praktiknya di lapangan seringkali lebih mengarah pada hal-hal yang non-substansial, seperti unsur identitas dan ideologi. Menurutnya, hal ini sangat mengkhawatirkan karena kalau diteruskan maka terjadi perseteruan, perpecahan.

"Persahabatan rusak hanya karena perbedaan politiknya,” ujarnya.

Menurut AHY, hal semacam ini harus dicegah. Sebab bila tidak dicegah, ia merasa hal ini bisa dituruntemurunkan ke anak cucu, dan pada akhirnya menjadi bom waktu.

"Kita semua akan menyesal. Harga persatuan di negeri kita terlalu mahal jika harus dirusak, karena pemilu yang sifatnya sangat temporer,” sebutnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA