Thursday, 3 Rajab 1441 / 27 February 2020

Thursday, 3 Rajab 1441 / 27 February 2020

Kemenkominfo Temukan 300 Hoaks Tersebar Selama Februari

Selasa 26 Mar 2019 16:19 WIB

Red: Ratna Puspita

Program Pemerintah Era Digital: Menkominfo Rudiantara memberikan pemaparan saat menjadi pembicara utama dalam acara ISIPOL Talk (I-Talk) bertajuk The Age of Digital Literacy: Opportunities and Challenges di FISIP Universitas Gadjah Mada, Sleman, DI Yogyakarta, Sabtu (23/2/2019).

Program Pemerintah Era Digital: Menkominfo Rudiantara memberikan pemaparan saat menjadi pembicara utama dalam acara ISIPOL Talk (I-Talk) bertajuk The Age of Digital Literacy: Opportunities and Challenges di FISIP Universitas Gadjah Mada, Sleman, DI Yogyakarta, Sabtu (23/2/2019).

Foto: Antara/Andreas Fitri Atmoko
Menkominfo mengatakan penyebaran hoaks sangat cepat saat ini.

REPUBLIKA.CO.ID, KUPANG -- Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan lebih dari 300 informasi hoaks berhasil didata oleh Kemenkominfo selama Februari 2019. Jumlah itu meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.

Rudiantara mengatakan pada Januari 2019, jumlah hoaks yang berhasil dicatat oleh Kemenkominfo mencapai 175. Penyebaran hoaks kata Rudiantara meningkat dari sebelumnya hanya tujuh persen menjadi 13 persen dan didominasi isu politik jelang Pemilu 2019.

"Penyebaran hoaks sangat cepat saat ini. Pada Februari jumlah hoaks yang menyebar mencapai 300an," katanya saat memberikan kuliah umum di hadapan ratusan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kupang, Selasa (26/3).

Ia mengatakan hoaks yang menyebar itu bervariasi. "Mulai dari hoaks tentang Pak Joko Widodo, dan juga ada hoaks tentang Pak Prabowo," tuturnya.

Dalam kesempatan kuliah umum itu ia juga memberikan contoh atau ciri-ciri hoaks yang sering menyebar di media sosial seperti whatsapp, facebook, atau media sosial lainnya. "Ciri-ciri hoaks itu yang pertama tidak jelas siapa yang mengirim, karena suka diambil dari postingan yang akunnya tidak jelas juga," ujar dia.

Kemudian mengatasnamakan kelompok atau golongan tertentu yang paling banyak lagi tertulis ajakan "ayo viralkan, atau ayo sebarkan". "Jika menerima hal-hal seperti itu jangan diteruskan. Di samping itu menerima informasi hoaks saja kita rugi, karena saat membuka video otomatis pulsa kita tersedot karena harus membayarnya," ujar dia.

Karena itu, ia mengajak semua mahasiswa di kota itu untuk bersama-sama memberantas hoaks dengan tidak ikut menyebarkannya kepada sesama teman atau sekitarnya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA