Rabu, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Rabu, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Mahasiswi UMM Bawa Isu Perundungan di Indonesia ke Korea

Kamis 28 Mar 2019 15:17 WIB

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Gita Amanda

Mahasiswi Prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang  (UMM), Miarti Amanah Riesky berhasil membawa isu perundungan di Indonesia  ke Korea Selatan.

Mahasiswi Prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Miarti Amanah Riesky berhasil membawa isu perundungan di Indonesia ke Korea Selatan.

Foto: Dokumen pribadi
Isu perundungan diangkat dari pengalaman pribadi dimana ia pernah mengalaminya.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Mahasiswi Prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Miarti Amanah Riesky, berhasil membawa isu perundungan di Indonesia ke Korea Selatan. Hal ini disampaikannya melalui International Conference Asia Pasific Youth Week 2019 yang diadakan di Seoul, Korea, beberapa waktu lalu.

Mengusung tema “Leading the Generation Unlimited to Prepare for 2030”, kegiatan yang diadakan oleh United Nations Human Settlements Programme (UN Habitat) yang bekerja sama dengan Studec International kali ini diikuti 130 peserta dari 25 negara. Mulai dari negara berkembang seperti India, Kamboja, Indonesia sampai negara maju seperti Inggris, Australia dan Singapura.

Berbekal esai berjudul “The importance of Mental Health for Young Generation”, Mia berhasil terpilih untuk berangkat bersama 29 peserta lain dari Indonesia. Mia menjelaskan, esai ini diangkatnya dari pengalaman pribadi dimana ia pernah mengalami perundungan di lingkungan SMA nya yang berada di Jakarta.

“Saya ingin menyampaikan kepada dunia, bahwa kondisi remaja di Indonesia sangat rawan bulliying,” tandas Mia melalui keterangan resmi yang diterima Republika.co.id, Kamis (28/3).

Acara yang diselenggarakan selama lima hari empat malam ini membahas tentang berbagai isu yang sedang marak di kalangan milenial. Antara lain isu politik, ekonomi, pendidikan, dan juga budaya.

Selain itu, program ini juga memberikan pengalaman serta pengetahuan nonakademis tentang budaya Korea. Beberapa di antaranya memakai Hanbok atau pakaian khas korea, upacara pembuatan teh dan juga membuat Kimchi (makanan khas Korea).

“Selain itu kami juga berkesempatan mengunjungi stasiun televisi nasional Korea yakni NBC TV  dan belajar seluk beluk media yang ada di negeri tersebut,” tambah Mia.

Mia mengatakan, keberangkatannya ke Korea bukan tanpa hambatan. Perempuan 20 tahun ini sempat terhalang izin orang tua lantaran harus pergi sendiri tanpa pendampingan. Namun setelah memberikan pengertian, restu sang ibu pun didapatkan. “Saat disana, mama malah yang paling bangga,” ungkapnya.

Meski telah sering mengikuti berbagai kegiatan internasional di dalam negeri,  anak kedua dari tiga bersaudara ini merasakan pengalaman yang sangat berbeda saat berada di Korea pada Februari hingga awal Maret lalu. Selain dari  perbedaan cuaca yang sangat drastis, budaya orang Korea juga membuat Mia kagum.

“Awalnya saya kaget dengan cuaca, suhu di sana mencapai minus lima derajat celsius. Selain itu, saya juga takjub dengan budayanya, dari segi pendidikan saja siswa SMP harus menimba ilmu di sekolah selama hampir 14 jam setiap harinya,” tambahnya.

Di kesempatan itu, Mia juga berpesan kepada mahasiswa lain untuk selalu aktif mencari informasi terkait kegiatan-kegiatan yang dapat mengembangkan pengalaman dan pengetahuan, termasuk di luar dunia akademis. Tujuannya agar mampu mengembangkan potensi yang ada pada diri, baik di akademis maupun nonakademis.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA