Monday, 2 Jumadil Akhir 1441 / 27 January 2020

Monday, 2 Jumadil Akhir 1441 / 27 January 2020

Kemarau Sulitkan Pemadaman Lahan Terbakar di Riau

Jumat 29 Mar 2019 17:18 WIB

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Muhammad Hafil

Ilustrasi Kebakaran Hutan

Ilustrasi Kebakaran Hutan

Foto: Foto : MgRol112
Helikopter milik sejumlah lembaga sudah diterjunkan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengaku kesulitan menuntaskan masalah kebakaran lahan gambut di Provins Riau. Alhasil lahan yang mengalami kebakaran kian bertambah luas. Berdasarkan data BNPB, lahan yang terbakar nyaris mencapai tiga ribu hektar.

"Dari data kami kebakaran hutan di Riau sampai saat ini masih terjadi. Kami mencatat di daerah gambut masih terbakar, sebanyak 2.800 hektar lahan terbakar, paling banyak di Kabupaten Bengkalis 1.200-an hektare," kata Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB Sutopo Purwo Nugrogo di Gedung BNPB, Jumat (29/3).

Sutopo mengatakan kebakaran hutan tidak hanya menjadi bencana yang menyerang wilayah di sekitar Riau. Ia menyebut polusi udara menjadi bahaya tambahan sebagai dampak kebakaran hutan. Beruntung, kondisi polusi asap atas kebakaran saat ini tidak membahayakan. ISPU (Pm 10) yang didata oleh BNPB hanya berkisar 1,31 sampai 50,25, kata Sutopo belum masuk kategori berbahaya.

"Indeks pencemaran udara di Pekanbaru, Pontianak, Palangkaraya, Buntok, Muarateweh itu baik. Sedangkan di Palembang tidak terdeteksi. Jarak pandang masih sulit," ungkapnya.

Guna mengatasi masalah itu, helikopter dari sejumlah lembaga pun diturunkan. Helikopter juga berfungsi untuk hujan buatan selain melakukan water boombing.

"Total sudah ada 12 helikopter untuk water bombing, tiga helikopter dari BNPB, satu helikopter dari KLHK, 5 dari perusahaan perkebunan, 1 dari Polri dan dua helikopter dari TNI," sebutnya.

Sayangnya, Sutopo mengakui hujan buatan tidak cukup guna memadamkan api. Sebab api yang berkobar di dalam tanaman gambut lsulit dipadamkan.

"Kita membutuhkan hujan yang besar, karena divbawah tanah hutan gambut itu membara terbakar sampai 36 meter. Di bawahnya masih terbakar," tuturnya.

Kendala lainnya, kata Sutopo yaitu minimnya sumber air. Bahkan ada titik hotspot yang tak ada sumber air. Cuaca kering yang terjadi di Riau ikut pula menyuplai kendala pemadaman.

"Sumber air masih sulit bahkan petugas sampai menggali mencari sumber air. Di Riau itu sedang kemarau jadi terik ditambah angin yang kencang menyulitkan pemadaman," ujarnya. 

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA