Sabtu, 23 Jumadil Awwal 1441 / 18 Januari 2020

Sabtu, 23 Jumadil Awwal 1441 / 18 Januari 2020

Alumni UI Diajak Ikut Pantau Pemilu 2019

Selasa 09 Apr 2019 14:21 WIB

Rep: Nawir Arsyad Akbar/ Red: Budi Raharjo

Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI) bekerja sama dengan KawalPemilu.org, meluncurkan gerakan 'Iluni UI Kawal Pemilu'.

Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI) bekerja sama dengan KawalPemilu.org, meluncurkan gerakan 'Iluni UI Kawal Pemilu'.

Foto: Iluni UI
Iluni UI ingin secara aktif berpartisipasi mengawal Pemilu 2019.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI) bekerja sama dengan KawalPemilu.org, meluncurkan gerakan 'Iluni UI Kawal Pemilu'. Gerakan tersebut diselenggarakan untuk mengajak seluruh alumni UI, agar terlibat aktif mengawal proses penghitungan suara. Guna memastikan jalannya Pemilu 2019 yang transparan, langsung umum, bebas rahasia, jujur dan adil.  
 
“Iluni UI ingin secara aktif berpartisipasi mengawal Pemilu 2019, terutama melindungi kesahihan data suara di level TPS. KawalPemilu - Jaga Suara adalah platform yang terbuka untuk publik, independen dan memiliki sistem yang mudah untuk digunakan sehingga kami memutuskan untuk berkolaborasi dengan mereka," ujar Ketua Umum Iluni UI, Arief Budhy Hardono di Jakarta, Selasa (9/4).

Selain itu, Iluni mendorong para alumni UI untuk berkolaborasi di semua lini. Salah satunya di legislatif, agar mereka didukung dan meningkatkan kepercayaan publik dengan menerapkan nilai-nilai Universitas Indonesia.

"Iluni UI mengajak segenap alumni UI dan masyarakat Indonesia di masa akhir Pemilu 2019 untuk berperan nyata memperkuat demokrasi demi wujudkan negera yang melindungi, mensejahterakan, dan mencerdaskan,” ujar Arief.

Lebih lanjut, Arief menjelaskan, Iluni UI adalah komunitas masyarakat terdidik dengan lebih dari 450 ribu anggota yang tersebar di segenap penjuru Indonesia. Mereka pun berkomitmen untuk berperan aktif dalam mewujudkan pemilu berkualitas yang jujur dan adil.
 
Sementara itu, salah satu penggagas KawalPemilu.org, Elina Ciptadi menjelaskan, beberapa tahun belakangan ini pihaknya melihat fenomena foto-foto di TPS. Fenomena ini bisa dimaksimalkan dengan cara menggunakan ponsel, untuk memfoto formulir C1 plano di TPS setelah penghitungan suara selesai, lalu diunggah ke upload.kawalpemilu.org.
 
“Kami sangat mengapresiasi komitmen Iluni UI yang mengajak anggota-anggotanya untuk memengumpulkan bukti paling dasar dari Pemilu 2019, yaitu formulir C1 plano. Kami berharap di hari ke depan akan semakin banyak organisasi yang bergabung dengan platform independen kami untuk secara sukarela menjaga suara rakyat di 809.500 TPS di seluruh Indonesia," ujar Erlina.
 
Sekjen Iluni UI, Andre Rahadian mengatakan, untuk mengawasi sekira 800 ribu TPS di Indonesia, dibutuhkan jutaan relawan yang dapat mengawasinya. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Iluni UI tidak hanya mengajak alumni UI, tapi juga mengajak alumni PTN yang tergabung dalam Himpuni (Himpunan Alumni Universitas Negeri) dan juga masyarakat untuk bergabung bersama.

“Setiap anggota masyarakat khususnya alumni UI yang ingin bergabung menjadi relawan Iluni UI Kawal Pemilu dapat mengunjungi bit.ly/iluniuikawalpemilu. Setelah itu klik tulisan Login with facebook. Lalu  klik tulisan”terima undangan dari ILUNI UI. Setelah itu mencoba sistemnya dengan cara klik: test Upload foto. Program ini menggunakan media sosial facebook. Semua relawan ILUNI UI Kawal Pemilu dapat memotret kertas hasil penghitungan suara (C1) di setiap TPS lalu mengupload," ujar Andre.
    
Mantan Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU), Haidar Nafis Gumay menyambut baik  peran aktif ILUNI UI dalam mengawal Pemilu yang baru dan rumit ini. Menurut Haidar, Pemilu kali ini dikatakan baru, karena yang pertama kali dalam sejarah Indonesia dan dunia, pemilihan anggota legislatif digabungkan dengan pemilihan presiden.

 “Pemilu kali ini akan berlangsung rumit. Pelaksanaan pemungutan suaranya akan berlangsung lama. Karena itu, akan melelahkan para anggota panitia  pemungutan  suara (PPS) yang bertugas di setiap TPS. Namun, tetap perlu dikawal. Pengawalan bukan hanya di TPS tapi juga di kelurahan hingga kecamatan," ujar Haidar.



BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA