Minggu, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Minggu, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Pemilu Israel, Netanyahu, dan Palestina yang Meradang

Kamis 11 Apr 2019 06:47 WIB

Rep: Fergi Nadira, Fitriyan Zamzami/ Red: Elba Damhuri

Warga Israel memberikan suaranya dalam pemilu di Tel Aviv, Israel, Selasa (9/4).

Warga Israel memberikan suaranya dalam pemilu di Tel Aviv, Israel, Selasa (9/4).

Foto: AP Photo/Sebastian Scheiner
Benjamin Netanyahu mengklaim memenangkan pemilu Israel.

REPUBLIKA.CO.ID, RAMALLAH – Klaim kemenangan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu atas kemenangannya dalam Pemilu Israel memicu reaksi kemarahan dan kekecewaan di Palestina. Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) mengatakan bahwa hasil pemilu tersebut menunjukkan bahwa warga Israel tak memilih perdamaian dan mendukung terus berlangsungnya kebijakan apartheid negara Zionis tersebut.

“Sayangnya, warga Israel banyak yang memilih kandidat-kandidat yang terang-terangan berkomitmen terhadap keberlangsungan status quo penindasan, pendudukan, aneksasi, dan pengusiran warga Palestina serta meningkatkan serangan terhadap hak-hak nasional dan kemanusiaan warga Palestina,” kata anggota Komite Eksekutif PLO, Hanan Ashrawi, seperti dilansir kantor berita Wafa, kemarin.

Ia melanjutkan, warga Israel telah memilih parlemen sayap kanan yang bersikap xenofobik serta anti-Palestina.

Ashrawi mengingatkan kembali soal rencana-rencana ekstrem dan militeristik Benjamin Netanyahu yang didukung Amerika Serikat belakangan. Kendati demikian, ia juga menekankan bahwa warga Palestina akan melalui masa-masa gelap dan berbahaya ini. “Kami manusia-manusia yang teguh hatinya,” kata dia.

Sekretaris Jenderal Komite Eksekutif PLO Saeb Erekat menambahkan dalam cicitannya di Twitter, hasil Pemilu Israel menunjukkan penolakan Israel atas perdamaian. Ia menguatkan pandangan itu dengan mamaparkan data bahwa dari 120 anggota Knesset alias Parlemen Israel yang terpilih, hanya 14 yang mendukung solusi dua negara sesuai batas sebelum pendudukan Israel pada 1967.

Kemarahan dan kekhawatiran petinggi PLO tersebut sehubungan dengan rencana Netanyahu menduduki secara keseluruhan Tepi Barat, wilayah yang dikuasai faksi Palestina. Janji tersebut disampaikan Netanyahu tak sampai sepekan sebelum pemilu.

Lebih dari 6 juta warga Israel berhak memilih dalam pemungutan suara yang dilakukan pada Selasa (9/4) waktu setempat. Hingga batas waktu pencoblosan, hanya 61,2 persen pemilih menggunakan hak suaranya. Jumlah partisipasi di kalangan warga Israel beretnis Arab diperkirakan jauh lebih rendah dari tingkat partisipasi nasional tersebut.

Dengan 97 persen suara dihitung kemarin, tidak ada satu pun dari partai-partai kandidat meraih mayoritas yang berkuasa. Meski begitu, Netanyahu berada dalam posisi kuat untuk membentuk pemerintahan koalisi dengan faksi sayap kanan yang mendukungnya.

Para pemilih tampaknya mengabaikan bahwa Netanyahu saat ini tengah terancam didakwa kasus korupsi. Dalam perhitungan kemarin, partai asal Netanyahu, Likud, dan partai politik Biru Putih atau Kahol Lavan yang mendukung saingannya, Benny Gantz, sama-sama memenangkan 35 kursi.

Jika secara resmi, pada Jumat (12/4), koalisinya diumumkan menang, Netanyahu akan menjadi perdana menteri yang terlama dalam sejarah 71 tahun Israel. Masa jabatannya mendatang adalah yang keempat secara berturut-turut dan kelima secara keseluruhan.

Saat penghitungan suara mencapai 97 persen, dilansir the Time of Israel, hasil perhitungan suara menunjukkan Likud memperoleh 26,28 persen, hanya sedikit di atas Biru dan Putih pada 25,97 persen. Menurut hitungan, dua partai ultra-Ortodoks Shas dan UTJ akan mendapatkan masing-masing delapan kursi.

Partai Arab Hadash-Ta'al dan Labour mendapatkan masing-masing enam kursi. Sementara Partai Yisrael Beytenu dan Union of Right-Parties Pihak mendapatkan lima kursi dan partai Kulanu dan Meretz empat kursi.

Perubahan besar dari jam terakhir menjadikan partai Arab kedua, Raam Raam-Balad, hanya mencapai ambang 3,25 persen, yang akan memberi mereka empat kursi. Hasil ini memberikan 65 kursi dan blok agama sayap kanan. Sementara partai tengah, kiri, dan Arab memiliki 55 kursi.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA