Selasa, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Selasa, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Gunung Agung Kembali Erupsi

Kamis 11 Apr 2019 23:34 WIB

Red: Andi Nur Aminah

Aktivitas Gunung Agung: Gunung Agung mengeluarkan asap terlihat dari Denpasar, Bali, Jumat (22/2/2019).

Aktivitas Gunung Agung: Gunung Agung mengeluarkan asap terlihat dari Denpasar, Bali, Jumat (22/2/2019).

Foto: Antara/Fikri Yusuf
Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan ketinggian sekitar 5.142 dpl.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Petugas Pos Pengamatan Gunungapi Gunung Agung di Rendang, Kabupaten Karangasem, wilayah timur Pulau Bali melaporkan telah mendengar suara gemuruh lemah dan juga melaporkan terjadinya erupsi Gunung Agung Kamis (11/4). Ini terjadi sekitar pukul 18.47 WITA.

Baca Juga

Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat. Ketinggian abu lebih kurang 2.000 meter di atas puncak atau sekitar 5.142 meter dari permukaan laut.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kasbani dalam keterangan tertulis mengatakan, erupsi tersebut terekam di seismogram. "Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 25 mm dengan durasi sekitar dua menit delapan detik," ungkapnya.

Saat ini aktivitas Gunung Agung masih berada pada status SIAGA (Level III). PVMBG pun telah menetapkan Zona Perkiraan Bahaya pada radius empat kilometer dari kawah puncak Gunung Agung. "Masyarakat di sekitar Gunung Agung serta pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya. Yaitu di seluruh area di dalam radius empat km dari kawah puncak Gunung Agung. Zona perkiraan bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan Gunung Agung yang paling aktual/terbaru," imbuh Kasbani.

Selain itu, PVMBG merekomendasikan masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi. Terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA