Saturday, 19 Rabiul Awwal 1441 / 16 November 2019

Saturday, 19 Rabiul Awwal 1441 / 16 November 2019

Pemkab Garut Akan Tingkatkan Pengawasan di Pantai

Kamis 11 Apr 2019 23:59 WIB

Rep: Bayu Adji/ Red: Muhammad Hafil

Ilustrasi Orang Tenggelam

Ilustrasi Orang Tenggelam

Foto: pixabay
Wisatawan harus memiliki kesadaran tentag bahaya di pantai.

REPUBLIKA.CO.ID, GARUT -- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut menyatakan siap meningkatkan optimalisasi pengawasan di obyek wisata yang berada di pantai. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud), Kabupaten Garut, Budi Gan Gan mengatakan, pihaknya akan menyiagakan petugas mitigasi bencana di objek wisata pantai wilayah selatan Garut untuk menciptakan rasa aman dan nyaman bagi wisatawan.

Baca Juga

Menurut dia, selama ini Disparbud telah menyiagakan petugas di kawasan pantai yang menjadi destinasi wisata seperti Pantai Santolo, Sayang Heulang, Ranca Buaya, dan objek wisata pantai lainnya. Namun luasnya pantai di Garut membuat tidak semua lokasibdapat terawasi oleh petugas secara optimal.

"Kita keterbatasan jumlah petugas," kata dia, Kamis (11/4).

Namun, ia menambahkan, saat ini pemerintah daerah akan merekrut sejumlah petugas untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada wisatawan yang datang di kawasan pantai Garut. Hal itu dilakukan demi mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan.

Meskipun petugas disiagakan, kata Budi, wisatawan juga harus memiliki kesadaran tentang bahaya berwisata di pantai, untuk itu wajib mematuhi peraturan dan rambu-rambu larangan. "Wisatawan harus lebih hati-hati jika pergi ke pantai, harus selalu memerhatikan rambu-rambu yang ada," kata dia.

Meninggal

Hingga Kamis (11/4) Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Bandung menemukan dua orang meninggal dunia saat sedang berenang di kawasan wisata di Garut. Satu korban ditemukan di Pantai Karang Papak, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Kamis, setelah tiga hari hilang terbawa ombak.

Juru Bicara Kantor SAR Bandung Joshua Banjarnahor mengatakan, timnya bersama petugas gabungan lain melakukan pencarian dengan menyusuri pantai dan lautan, hingga akhirnya jasad Asep Rohendi (19) ditemukan. "Korban ditemukan tidak jauh dari tempat kejadian musibah dalam keadaan meninggal dunia," kata dia.

Menurut dia, jasad korban dibawa ke Puskesmas Cikelet, sebelum akhirnya diserahkan kepada keluarga korban.

Kejadian tragis juga dialami pemuda berusia 15 tahun ketika berenang di kawasan Air Terjun Batusari, Kecamatan Cisompet, Kamis (11/4). Korban atas nama Fauzi itu ditemukan dalam kondisi meninggal dunia setelah sempat dilakukan pencarian selama beberapa jam oleh tim gabungan TNI-Polri, dan masyarakat setempat.

"Korban sudah ditemukan," kata Joshua.

Ia mengimbau, warga atau wisatawan lebih mengutamakan keselamatan. Pasalnya, saat ini keadaan debit sungai dan gelombang laut tak menentu. Ia mengatakan, masyarakat harus lebih hati-hati.

Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga telah merilis peringatan dini gelombang tinggi yang berpeluang terjadi di beberapa wilayah Indonesia dalam kurun waktu empat hari ke depan hingga 14 April. Penyebab potensi gelombang tinggi itu ditengarai karena adanya pola tekanan rendah 1000 hPa yang terjadi di Samudera Hindia barat laut Australia, 1007 hPa di Samudra Hindia Barat Sumatra, dan 1006 hPa di Samudra Hindia selatan NTT.

Selain itu, kecepatan angin juga turut andil dalam peningkatan gelombang. BMKG mencatat kecepatan angin tertinggi terdapat di Laut Arafuru, Perairan Yos Sudarso, dan Perairan Merauke.

Beberapa daerah yang berpeluang terdampak gelombang tinggi dengan kategori sedang (1,25 – 2,5 meter) di antaranya adalah perairan utara Sabang, Perairan Sabang hingga Banda Aceh, Perairan Barat Aceh, Perairan Barat Kepulauan Simeulue hingga Kepulauan Mentawai, Perairan Bengkulu, Samudera Hindia Barat Aceh hingga Bengkulu, Selat Bali hingga Selat Lombok hingga Selat Alas Bagian Selatan.

Gelombang dengan maksimal ketinggian 2,5 meter juga berpotensi terjadi di Perairan Selatan Pulau Sumba hingga Pulau Rotte, Selat Sumba bagian barat, Laut Sawu, Laut Timor selatan NTT, Samudera Hindia selatan NTT, Perairan Selatan Kepulauan Sermata hingga Kep. Tanimbar, Perairan Selatan Kepulauan Aru, Laut Arafuru, Perairan Kep. Sangihe hingga Kepulauan Talaud, Laut Maluku bagian utara, Perairan Utara dan Timur Kepulauan Halmahera, Laut Halmahera, Perairan Utara Manokwari hingga Biak, dan terakhir Samudera Pasifik utara Halmahera hingga Papua.

Sementara itu, beberapa wilayah Indonesia lainnya juga perlu meningkatkan kewaspadaan menyusul adanya potensi gelombang yang lebih tinggi yaitu kisaran 2,5 – 4 meter. Wilayah tersebut di antaranya Perairan Enggano hingga Barat Lampung, Selat Sunda bagian selatan, Samudera Hindia Barat Lampung, Perairan Selatan Pulau Jawa, serta Samudera Hindia selatan Jawa hingga NTB.

BMKG mengimbau pada nelayan dan masyarakat pada umumnya yang beraktivitas di pesisir wilayah yang berpotensi gelombang tinggi untuk memperhatikan risiko tinggi terhadap keselamatan pelayaran. Beberapa moda transportasi yang perlu diperhatikan yaitu perahu nelayan, kapal tongkang, kapal ferry, dan kapal ukuran besar seperti kapal kargo atau kapal pesiar.

Masyarakat yang berdomisili dan beraktivitas di pesisir sekitar area yang berpeluang terjadi gelombang tinggi serta wilayah pelayaran padat juga diimbau agar tetap waspada. Jika terjadi gelombang tinggi, BMKG menyarankan untuk berlari menjauh menuju tempat yang lebih tinggi.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA