Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Ahli IPB: Program Sedekah Putih Dilakukan oleh Negara Maju

Jumat 12 Apr 2019 20:10 WIB

Red: Andri Saubani

Sejumlah relawan meneriakkan yel-yel saat Dialog Kebangsaan Relawan 02 Prabowo-Sandi di GOR Pajajaran, Kota Bogor, Jawa Barat, Kamis (21/3/2019).

Sejumlah relawan meneriakkan yel-yel saat Dialog Kebangsaan Relawan 02 Prabowo-Sandi di GOR Pajajaran, Kota Bogor, Jawa Barat, Kamis (21/3/2019).

Foto: Antara/Arif Firmansyah
Di negara maju, pemerintah memberikan makanan bergizi untuk balita.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menyebutkan, program sedekah putih pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02 telah dilakukan oleh pemerintahan di beberapa negara maju. Di negara maju, program pemberian makanan bergizi seperti bubur kacang hijau dan susu pada anak-anak merupakan program pemberian makanan tambahan untuk anak balita dan usia sekolah supaya terpenuhi asupan gizinya.

"Memberikan makanan tambahan tidak hanya untuk anak balita, tapi untuk anak sekolah itu program yang baik yang sangat bervisi SDM. Karena program-program semacam itu dilakukan di negara maju," kata Guru Besar Bidang Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga Fakultas Pertanian IPB Prof Ali Khomsan, Jumat (12/4).

Dia mencontohkan di Amerika Serikat (AS) yang memberikan makanan tambahan untuk anak-anak usia sekolah. Pemerintah AS memiliki program sarapan dan makan siang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak sekolah.

Ali menyadari bahwa masih banyak anak-anak usia sekolah di Indonesia yang asupan gizinya kurang mulai dari tidak sarapan hingga makan siang yang seadanya. "SMA kebanyakan jam tiga, jam empat baru selesai sekolah. Kalau kita lihat, anak-anak itu kalau tidak makan lengkap mungkin hanya jajan seadanya saja. Ini yang dikhawatirkan, asupan gizi makan siang tidak cukup baik, tidak cukup beragam, tidak cukup berkualitas karena anak-anak hanya mengandalkan jajan di sekolah," kata dia.

Pemerintah AS memberikan subsidi dalam bentuk harga makan siang di kantin sekolah yang lebih murah bagi masyarakat kurang mampu. Namun, makan siang yang disediakan di kantin sekolah sesuai dengan kebutuhan gizi yang diperlukan.

Di Prancis, siswa makan siang di kantin sekolah dengan makanan yang lengkap dan bergizi namun hanya membayar setengah harga. Sementara, sisa harga makanan tersebut ditanggung oleh pemerintah atau sekolah.

Namun, Ali menyebut apabila di Indonesia belum bisa meniru sepenuhnya dengan hanya memberikan bubur kacang hijau dan susu, itu patut disyukuri. Pada debat calon wakil presiden yang dilakukan pada 17 Maret 2019 lalu, calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Salahuddin Uno menyebutkan sedekah putih seperti pemberian bubur kacang hijau dan susu pada anak-anak sekolah dilakukan untuk mencegah stunting atau kekerdilan pada anak.

Lawan debatnya, yakni calon wakil presiden nomor urut 01 KH Maruf Amin menegaskan bahwa pencegahan stunting hanya bisa dilakukan sampai anak berusia dua tahun. Ali membenarkan hal tersebut bahwa idealnya pencegahan stunting dilakukan sejak remaja putri yang akan menjadi calon ibu, ibu hamil, dan sejak anak dilahirkan sampai usia dua tahun.

Dia menyebut dampak buruk stunting yang menghambat perkembangan otak anak hanya bisa dicegah sebelum anak tersebut berusia dua tahun. Namun, dampak buruk stunting yang berpengaruh pada pertumbuhan fisik masih dapat diperbaiki selama anak tersebut masih dalam masa pertumbuhan.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA