Sabtu, 26 Rabiul Awwal 1441 / 23 November 2019

Sabtu, 26 Rabiul Awwal 1441 / 23 November 2019

Petinggi PAN tak Terima Alasan Bima Dukung Jokowi

Ahad 14 Apr 2019 06:12 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Bima Arya Sugiarto.

Bima Arya Sugiarto.

Foto: Republika/Raisan Al Farisi
PAN akan memberikan kesempatan ke Bima untuk menjelaskan posisinya.

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- DPP partai amanat nasional (PAN) belum mau menentukan sikap setelah Wakil Ketua Umum (Waketum) DPP PAN bima arya Sugiarto melawan arus koalisi dengan menyatakan dukungannya untuk capres-cawapres Jokowi-Ma''ruf Amin. Namun alasan Bima mendukung Jokowi untuk melanjutkan reformasi dinilai tak dapat diterima.

Baca Juga

"Kita tunggu dulu kejelasan dari Bima. Sekarang ini kita internal organisasi akan bentuk forum termasuk Bima, karena dia termasuk pimpinan. Kita berikan kesempatan bagi Bima untuk menjelaskan posisinya," kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PAN Eddy Soeparno, Sabtu (14/4).

Menurutnya, secara aturan Bima sudah melawan keputusan yang ditentukan PAN melalui Rapat Kerja Nasional (Rakernas). Sayangnya, Bima bukan hanya tidak mendukung, melainkan menyebrang dari keputusan partai

"Kalau tidak mau dukung keputusan tersebut mungkin cara menyampaikannya harus berbeda, bukan dengan cara mendukung pihak yang bertentangan dengan keputusan yang sudah kita buat," ujarnya.

Ia tidak menerima alasan Bima yang mengaku dukung Jokowi-Ma'ruf lantaran menjunjung tinggi reformasi. "Kader boleh saja bersikap, tapi kan bagaimanapun keputusan partai harus diikuti. Apakah itu berbeda dengan reformasi atau tidak, tetapi keputusan ini dari rakernas, pengambilan keputusan tertinggi," tutur pria yang juga sebagai caleg DPR RI dari Dapil Kota Bogor dan Cianjur.

Kasus serupa pernah dialami mantan kader PAN, Wanda Hamidah yang kini menjadi kader Partai Nasdem. Bedanya, saat itu Wanda dikeluarkan oleh pimpinan PAN karena mendukung Jokowi pada kontestasi Pilpres 2014 lalu.

"Saya menjadi kader PAN selama 16 tahun, tapi kemudian dikeluarkan gara-gara dukung Jokowi. Bagi saya negara lebih penting," kata Wanda ketika itu.

Sebelumnya, meski menyeberang dari koalisi partainya, Bima mengaku tidak terbenak untuk keluar dari PAN. Bima menganggap langkahnya sesuai dengan tujuan awal didirikanya PAN, yakni menjunjung tinggi reformasi. "Saya ikut mendirikan partai ini, tidak ada sedikitpun ingin keluar drai partai. Ini adalah ikhtiar saya untuk sejalan dengan platform partai," kata Bima.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA