Saturday, 23 Jumadil Awwal 1441 / 18 January 2020

Saturday, 23 Jumadil Awwal 1441 / 18 January 2020

PDIP: Jokowi Pemimpin yang Optimis

Rabu 10 Apr 2019 07:54 WIB

Red: Ratna Puspita

Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto saat mengunjungi Taman Buah Naga di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Selasa (9/4) .

Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto saat mengunjungi Taman Buah Naga di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Selasa (9/4) .

Foto: republika/Dian Fath Risalah
Hasto menilai Jokowi adalah sosok yang mampu melihat potensi dari suatu daerah.

REPUBLIKA.CO.ID, MAUMERE -- Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan sosok Joko Widodo (Jokowi) adalah pemimpin yang tepat bagi Indonesia. Sebab, Jokowi merupakan optimistis dalam melihat masa depan.

Baca Juga

"Orang melihat Nusa Tenggara Timur (NTT) kadang hanya dari satu sisi, yaitu udara yang panas. Namun, Jokowi melihat aspek yang lain. Beliau optimistis melihat masa depan NTT," ujar Hasto dalam safari kebangsaan di Maumere, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Rabu.

Hasto menilai Jokowi adalah sosok yang mampu melihat potensi dari suatu daerah. "Jokowi tahu potensi NTT, dia paham posisi geopolitik yang berbatasan dengan Australia ini memiliki keuntungan bagi Indonesia, didukung pula dengan alam NTT yang begitu indah," ujar Hasto.

Jokowi juga dinilai Hasto mampu melihat potensi sumber daya manusia di wilayah NTT, yang terkenal dengan kecerdasan sehingga mampu membangun bangsa Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya tokoh pergerakan nasional baik yang merupakan rohaniwan, akademisi, hingga politisi, yang berasal dari NTT.

"Oleh sebab itu Jokowi berusaha memunculkan potensi tersebut dengan dua kunci, yang pertama adalah infrastruktur sehingga beliau membangun bendungan-bendungan dan tol laut," ujar Hasto.

Sebanyak tujuh bendungan yang dibangun Jokowi dalam kurun waktu empat tahun terakhir, merupakan infrastruktur yang dibangun Jokowi untuk mengatasi masalah kekeringan di NTT sehingga dapat membantu produksi petani NTT. "Kalau mau menolak impor pangan, maka harus disertai dengan upaya-upaya strategis dan konkret, bagaimana menyejahterakan rakyat dan petani," jelas Hasto.

Hasto menyebutkan bila produksi sumber pangan di NTT dapat dimajukan, maka Australia tidak perlu mengimpor bahan pangan dari Thailand, karena dapat mengimpor dari NTT yang lokasinya lebih dekat dengan Australia. "Kunci yang kedua adalah peningkatan mutu dan kualitas sumber daya manusia," kata Hasto.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA