Sunday, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Sunday, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Ketua BPN Sebut Prabowo Seharusnya Menang 70-80 Persen

Rabu 24 Apr 2019 20:10 WIB

Rep: Bambang Noroyono/ Red: Andri Saubani

Mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Danjen Kopassus) Letjend Prabowo Subianto menghadiri peringatan HUT Kopassus ke-67 di Markas Kopassus Cijantung, Jakarta, Rabu (24/4).

Mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Danjen Kopassus) Letjend Prabowo Subianto menghadiri peringatan HUT Kopassus ke-67 di Markas Kopassus Cijantung, Jakarta, Rabu (24/4).

Foto: Republika/Febrianto Adi Saputro
BPN mengklaim pasangan Prabowo-Sandi dicurangi pada Pilpres 2019.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Salahudin Uno mengklaim kemenangan pasangan nomor urut 02 tersebut bisa menang telak dalam Pilpres 2019 atas pasangan pejawat 02 Joko Widodo (Jokowi)-KH Maruf Amin. Ketua BPN Djokoso Santoso mengatakan, kemenangan telak tersebut, bisa mencapai 70-80 berbanding 30-20 persen.

Baca Juga

Namun Djoko mengatakan, angka kemenangan telak tersebut sengaja dicurangi. “Meski dicurangi kita (Prabowo-Sandiaga) tetap menang. Kalau tidak dicurangi bisa sampai 70 persen, 80 persen,” kata Djoko di kawasan TMII, Jakarta Timur (Jaktim), Rabu (24/4).

Tetapi kata dia, meskipun dicurangi, hasil perhitungan internal BPN, masih menempatkan Prabowo-Sandiaga di angka kemenangan 62 persen. “Itulah 62 persen, sisa suara yang menyatakan Prabowo-Sandiaga menang,” sambung Djoko.

Djoko yang pernah menjadi Panglima TNI itu menilai, aksi kecurangan terhadap Prabowo-Sandiaga selama Pilpres 2019, brutal di semua lini. “Curangnya terhadap Prabowo-Sandi ini, sudah tidak karuan. Mereka melakukannya dengan terencana, masif, dan sistematis,” sambung dia.

Aksi kecurangan terhadap Prabowo-Sandiaga itu pun, klaim Djoko masih terjadi sampai hari ini. Menurut dia, jika pada hari pencoblosan 17 April bentuk kecurangan tersebut terjadi di tempat-tempat pemungutan suara (TPS), saat ini, bentuk kecurangan itu terjadi saat penghitungan.

Djoko mengklaim, banyak laporan yang menyebutkan proses rekapitulasi suara dari TPS dalam C1 yang dipublikasikan KPU, menguntungkan paslon 01. Yaitu, berupa penggelembungan suara 01, dan pengurangan keterpilihan yang sah terhadap 02. Karena itu, Djoko meminta, agar seluruh relawan, dan pendukung Prabowo-Sandi, tetap kerja keras mengawal suara kemenangan 02.

Klaim kemenangan Prabowo-Sandiaga sudah disampaikan resmi lebih dari empat kali. Namun klaim kemenangan 70 sampai 80 persen menjadi angka baru yang dikoarkan BPN 02. Akan tetapi, klaim kemenangan kubu Prabowo-Sandiaga tersebut, bertolak belakang dari hasil hitung C1 sementara versi Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Laman Sistem Hitung Suara (Situng) KPU sampai Rabu (24/4) pukul 19:30, masih menempatkan Prabowo-Sandiaga dengan perolehan suara 44,19 persen. Hasil tersebut, membuat paslon Jokowi-Maruf unggul dengan angka 55,81 persen.

Situng KPU merupakan publikasi resmi dari formulir C1 yang menjadi data rekapitulasi hasil pemungutan suara, di TPS-TPS seluruh Indonesia. Persentase versi Situng KPU saat ini, sudah mencapai 30 persen, atau hasil rekapitulasi C-1 dari 244,576 TPS. KPU, dalam Pemilu 2019, mendirikan 813.350 TPS di seluruh Indonesia, dan wilayah pemilihan di luar negeri.

Angka Situng KPU sementara ini, sesuai dengan quick count versi banyak lembaga survei saat 17 April lalu. Yaitu prediksi tentang kekalahan Prabowo-Sandiaga di angka 44-45 persen, dan keunggulan Jokowi-Maruf dengan kemenangan 54-55 persen.

Namun angka Situng KPU, belum resmi dan bukan acuan untuk kemenangan salah satu paslon. Pun bukan menjadi acuan bagi penyelenggara pemilu untuk menetapkan hasi resmi pilpres. Sebab, KPU akan menghitung suara dengan cara manual dari seluruh C1 sampai bulan mendatang. Pada 22 Mei, KPU baru akan mengumumkan resmi hasil penghitungan suara Pilpres 2019, sekaligus menetapkan pemenangnya. 


n

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA