Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Ketika Cina Menyerukan Tolak Proteksionisme

Ahad 28 Apr 2019 15:09 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Elba Damhuri

Presiden Cina Xi Jinping berpidato pada pembukaan China International Import Expo di Shanghai, Senin (5/11).

Presiden Cina Xi Jinping berpidato pada pembukaan China International Import Expo di Shanghai, Senin (5/11).

Foto: AP
Cina berupaya meredakan kekhawatiran seputar program Belt and Road Initiative.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING – Presiden Cina Xi Jinping mendesak puluhan pemimpin dunia untuk menolak kebijakan ekonomi yang mengetatkan perdagangan antarnegara atau proteksionisme, Sabtu (27/6). Ia mengundang lebih banyak negara untuk berpartisipasi dalam proyek infrastruktur globalnya, Belt and Road Initiative (BRI).

"Kita perlu membangun ekonomi dunia yang terbuka dan menolak proteksionisme," kata Xi, dilansir dari laman Channel News Asia, Sabtu (27/4).

Ia berbicara di depan 37 pemimpin dari Eropa, Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Hal ini disampaikannya, termasuk kepada Presiden Rusia, Vladimir Putin, Perdana Menteri Italia, Giuseppe Conte, dan Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan. Xi berupaya meredakan kekhawatiran seputar program BRI.

Sebelumnya, Cina telah berperang dengan Amerika Serikat (AS) selama berbulan-bulan. Xi juga berupaya membawa kekuatan dunia baru dengan kerja sama multilateral dan globalisasi.

Sebuah rancangan pengumuman untuk forum berjanji untuk menolak proteksionisme dan unilateralisme yang berkaitan dengan Presiden AS Donald Trump. Sementara, para pejabat AS tidak dikirim ke dalam pertemuan ini.

Kebijakan luar negeri Xi bertujuan menemukan kembali Jalan Sutra kuno untuk menghubungkan Asia ke Eropa dan Afrika. Langkah ini diterapkan melalui investasi besar-besaran dalam proyek-proyek maritim, jalan, dan kereta api, dengan ratusan miliar dolar pembiayaan dari bank-bank Cina.

"Kita perlu mendorong partisipasi penuh lebih banyak negara dan perusahaan, sehingga memperluas kepentingan bersama," ucap Xi.

Zero tolerance

Sebelumnya, pada Jumat Xi menjanjikan transparansi dan tak akan membiarkan korupsi apa pun dalam pelaksanaan BRI. Pernyataan itu disampaikan di tengah gaduhnya kekhawatiran bahwa BRI adalah perangkap utang global melalui pembangunan infrastruktur oleh Cina di berbagai negara.

"Segala sesuatunya harus dilakukan secara transparan dan kita harus menerapkan zero tolerance terhadap korupsi," kata Xi saat berpidato dalam acara BRI Forum kedua di Beijing, Jumat (26/4), yang dikutip the Guardian.

Xi menjanjikan standar tinggi untuk setiap proyek pembangunan yang mereka tawarkan. Xi berjanji, negaranya akan menegakkan prinsip-prinsip konsultasi yang luas, menjaga komunikasi, dan koordinasi yang erat dengan semua pihak untuk bekerja bersama dengan keterbukaan, inklusivitas, dan transparansi.

"Belt and Road bukanlah klub eksklusif. Ini bertujuan meningkatkan konektivitas dan kerja sama praktis (dari negara-negara yang berpartisipasi), memberikan hasil yang saling menguntungkan, dan pembangunan bersama," ujar Xi, dikutip laman South China Morning Post atau SCMP.

Dia tak menampik bahwa Cina memang mencari surplus perdagangan. Tapi, dengan prinsip keseimbangan, Beijing siap mengimpor lebih banyak produk dan layanan pertanian dari negara-negara lain.

Xi pun menegaskan, negaranya akan menegakkan kerja sama dengan komunitas internasional tentang perlindungan hak kekayaan intelektual (HKI). Cina akan mengakhiri transfer teknologi secara paksa, melindungi merek dan rahasia dagang, serta memerangi pencurian IP.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA