Saturday, 4 Sya'ban 1441 / 28 March 2020

Saturday, 4 Sya'ban 1441 / 28 March 2020

Pramono: Permintaan HRS untuk Setop Situng adalah Aneh

Jumat 03 May 2019 14:10 WIB

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Teguh Firmansyah

Pramono Anung

Pramono Anung

Foto: Republika/ Wihdan
Pertemuan AHY dan Jokowi juga membahas soal hitung cepat setelah pencoblosan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekretaris Kabinet Pramono Anung menyampaikan pertemuan antara Kogasma Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dengan Presiden Joko Widodo pada Kamis (2/5) lalu dilakukan untuk menurunkan ketegangan di masyarakat pascapemilu. Selain itu, pertemuan tersebut juga dimaksudkan untuk membahas mengenai perhitungan cepat setelah pencoblosan.

"Misalnya urusan quick count kan ini sudah menjadi tradisi kita dalam demokrasi sejak tahun 2004 quick count sudah ada. Real count ini yang situng ini kan sebagai referensi alat bantu yang sebenarnya juga sudah ada. Dulu kan ada kawal pemilu," ujar Pramono di Kompleks Istana Presiden, Jakarta, Jumat (3/5).

Pramono pun berpendapat, permintaan penghentian perhitungan cepat oleh Habib Rizieq Syihab (HRS) merupakan hal yang aneh. Perhitungan cepat ini dinilainya justru menunjukan proses demokrasi yang semakin maju dan dewasa.

"Kalau situngnya di-take down misalnya, kan masih ada kawal pemilu yang kurang lebih nanti hasilnya sama. Karena materi perhitungan C1-nya juga sama," kata dia.

Karena itu, ia berharap masyarakat juga dapat bersikap dewasa terhadap proses pemilu ini. "Jangan karena nggak sesuai harapannya minta dihapus dan sebagainya," tambahnya.

Pramono juga mengaku semakin heran, lantaran kubu lawan justru mempercayai hasil perhitungan cepat untuk pemilihan legislatif. Namun tak percaya terhadap hasil perhitungan cepat pilpres.

Menurut Pramono, hasil quick count, real count, situng, dan juga kawal pemilu hanya sebagai pembanding. Sementara itu,  hasil resmi perhitungan suara merupakan hasil yang dikeluarkan oleh KPU secara manual.

Setelah bertemu dengan AHY, Pramono pun tak menutup kemungkinan Jokowi akan bertemu dengan berbagai tokoh lainnya. Sebelumnya, Jokowi juga sempat berbincang dengan Ketum PAN Zulkifli Hasan di Istana Merdeka pada Rabu (24/4).

"Ya politik itu kan dinamis, selalu bergerak. Mungkin tidak hanya berhenti pada Mas AHY mungkin lain-lainnya," ujar Pramono.

Baca Juga

photo
Komandan Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) (kanan) didampingi Mensesneg Pratikno (kiri) memberikan salam kepada wartawan usai bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (2/5/2019).

Ia menyebut, pertemuan Jokowi dengan berbagai tokoh ini perlu dilakukan untuk menyamakan persepsi terkait situasi pascapemilu saat ini.

"Pertemuan-pertemuan Presiden dengan mungkin nanti akan dengan tokoh lain dimaknai untuk melihat perspektif yang lebih luas terhadap hal tersebut," kata dia.



BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA