Saturday, 26 Rabiul Awwal 1441 / 23 November 2019

Saturday, 26 Rabiul Awwal 1441 / 23 November 2019

Kisah Umar, Petugas Pemilu yang Terkena Stroke Usai Wudhu

Ahad 05 May 2019 22:12 WIB

Rep: Mimi Kartika/ Red: Teguh Firmansyah

Ketua KPU Arief Budiman (kedua kanan) menyerahkan santunan uang kepada keluarga almarhum Umar Madi, petugas KPPS yang wafat, di kelurahan Sukabumi Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Jumat (3/5/2019).

Ketua KPU Arief Budiman (kedua kanan) menyerahkan santunan uang kepada keluarga almarhum Umar Madi, petugas KPPS yang wafat, di kelurahan Sukabumi Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Jumat (3/5/2019).

Foto: Antara/Aditya Pradana Putra
Umar mengaku sempat kelelahan kepada anaknya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) serentak 2019 meninggalkan sejumlah permasalahan. Salah satunya yakni banyaknya petugas pemilu yang meninggal. Tercatat sedikitnya 440 orang dari kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) meninggal dunia. Salah satunya adalah Umar Madi (65).

Umar merupakan wakil ketua KPPS TPS 68 di Jalan Pahlawan RT 001/RW 005, Kelurahan Sukabumi Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Ia meninggal usai melakukan pemungutan dan penghitungan suara.

Sri Hartati (36), anak kedua dari almarhum Umar mengatakan, sang ayah sudah sibuk bekerja membagikan surat undangan atau formulir C6 tiga hari sebelum hari pemungutan suara.

Kemudian, pada hari pemungutan suara yakni pada 17 April, ayahnya pun sudah sibuk bekerja sejak pukul 06.00 hingga 10.00 WIB keesokan harinya (18/4). Ia bekerja tanpa henti bersama petugas lainnya.

"Tanggal 17 bapak sudah bertugas jam 6 pagi sampai tanggal 18 jam 10 pagi, jadi non stop enggak tidur, kan harus mengawal. Kan ada empat surat suara, semuanya itu harus diteliti jangan sampai ada kesalahan," ujar Sri saat ditemui Republika.co.id, dikediaman Almarhum Umar, Ahad (5/5).

Ia mengatakan, sang ayah pernah berkeluh kelelahan kepadanya melalui sambungan telepon. Waktu itu ketika KPPS yang meninggal sebanyak 19 orang.

"Setelah pencoblosan, 'bapak capek nih', dan saya enggak tanggapi serius saya cuma bilang jangan capek-capek Pak, ini sudah ada 19 orang meninggal," kata Sri menirukan kata Umar sambil ditemani ibunda Tuti (62), istri Umar.

Sri saat itu tak ada di Indonesia karena tinggal dengan keluarga kecilnya di Bristol, Inggris. Ia sempat bingung dan bertanya-tanya, kelelahan seperti apa hingga merenggut nyawa orang lain.

Bahkan, ia tak menduga, ayahnya menjadi salah satu di antara ratusan KPPS yang meninggal dunia. Sri mengaku ikhlas atas kepergian ayah yang telah melakukan tugasnya di dunia.

Namun, ia sedikit kecewa karena tak dapat melihat jenazah sang ayah. Ia hanya bisa melihat pusara Umar yang telah dipenuhi bunga. Sebab, kata dia, tak mudah mencari tiket penerbangan secepat itu.

"Saya ketemu bapak akhir 2017 karena saya harus pergi ke luar negeri. Saya enggak tahu kalau itu jadi terakhir saya melihat bapak saya," kata Sri.

Ia bercerita, bahwa Umar memiliki penyakit jantung. Sang ayah rutin mengontrol kesehatannya ke rumah sakit hingga terlihat bugar dan sehat. Namun, saat akan menunaikan shalat zhuhur usai menghitung suara di TPS, Umar mengalami serangan jantung. Setelah mengambil wudhu dan memakai sarung, ketika hendak pergi ke masjid, ia terjatuh dan segera ditopang sang ibu.

"Paginya, bapak tuh sehat saja, terus siangnya setelah zhuhur beliau ingin ke mushala untuk shalat jamaah beliau jatuh dan kita larikan ke RS Pelni Petamburan," tutur Sri.

Umar langsung dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Pelni, Petamburan. Setelah mendapat penanganan dokter Umar sempat membuka mata. Akan tetapi, kondisinya menjadi lebih kritis hingga pada Jumat dinyatakan meninggal dunia.

"Dokter bilang bapak kena stroke, sebelah otak kirinya mengalami kelumpuhan da  setelah itu Kamis mulai kritis dan hari Jumat (26/4) jam 01.59 dini hari bapak dinyatakan meninggal dunia," cerita Sri.

Umar memang sudah berpengalaman menjadi panitia penyelenggara pemilu. Hal itu telah dilakukannya dari kontestasi pemilu pada tahun 2004 lalu.

Sri mengatakan, ayahnya senang melakukan itu. Ia dipercaya warga untuk kembali menyelenggarakan pemilu. Akan tetapi, ia pun meminta pelaksanaan pemilu serentak ini dievaluasi agar tak terulang jatuhnya korban di kemudian hari.

"Perlu dievaluasi ya, pilpres dan pileg berbarengan kan tanggung jawab dan beban pikiran pun bertambah, gimana biar pemilu lancar enggak ada kesalahan. Biar nanti nggak ada seperti 'bapak' lainnya," ungkap dia.

Pada Jumat (3/5) Ketua KPU RI dan KPU DKI Jakarta memberikan langsung santunan sebesar Rp 36 juta ke rumah Almarhum Umar. Menurut Sri, uang sebesar apapun tak bisa mengembalikan sang ayah.

Namun, ia mengapresiasi itu sebagai bentuk penghargaan dan pengakuan atas apa yang dilakukan ayahnya. Ia juga mengucapkan terima kasih atas hal itu. Sri mengatakan, bapaknya itu sebagai pahlawan bagi istri, kedua anaknya, dan cucu-cucunya.

"Terima kasih kalau ada yang bilang bapak sebagai pahlawan. Bapak, ibu, sudah saya anggap pahlawan, orang tua saya sendiri," imbuhnya.

Salah satu warga setempat, Ijah (40), mengatakan bahwa Umar dikenal baik dan sering bersosialisasi dengan warga. Mereka juga membenarkan kalau Umar menjadi panitia sejak penyelenggaraan pemilu sebelumnya.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA