Rabu, 14 Rabiul Akhir 1441 / 11 Desember 2019

Rabu, 14 Rabiul Akhir 1441 / 11 Desember 2019

Bahaya Rokok Elektrik Menurut PB Papdi

Selasa 14 Mei 2019 22:24 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Andri Saubani

Seorang pedagang rokok elektronik (e-cigarette) memperlihatkan tiga buah roko elektrik di pusat penjualan rokok elektrik di jl Rajawali, Palembang, Kamis (21/5).

Seorang pedagang rokok elektronik (e-cigarette) memperlihatkan tiga buah roko elektrik di pusat penjualan rokok elektrik di jl Rajawali, Palembang, Kamis (21/5).

Foto: Antara/Nova Wahyudi
Bahaya rokok elektrik termasuk memicu timbulnya penyakit kanker.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Papdi) mengungkap bahaya rokok elektrik termasuk memicu timbulnya penyakit kanker. Ketua Umum PB Papdi Sally Aman Nasution mengungkap dari segi kesehatan, rokok elektrik ternyata mengandung beberapa bahan yang dapat berakibat tidak baik bagi fungsi beberapa organ tubuh manusia.

"Sifat karsinogesis dari substansi yang ada di rokok elektrik dapat mencetuskan timbulnya beberapa kanker tertentu seperti kanker paru, mulut, dan tenggorokan," ujarnya saat di konferensi pers bertema 'Rokok Elektrik: Ancaman atau Solusi?', di Jakarta, Selasa (14/5).

Tak hanya itu, ia mengungkap, pajanan terhadap rokok elektrik atau vape akan mempengaruhi gen sirkadian molecular yang berakibat pada ritme fisiologis tubuh manusia dan akan merusak fungsi endotel pembuluh darah yang terdapat di seluruh tubuh. Ia menambahkan, data-data yang paling banyak ditemukan adalah di sistem kardiovaskular atau jantung tetapi tidak menutup kemungkinan terjadi kerusakan pada sistem pada sistem dan organ tubuh lainnya. Apalagi, endotel terdapat di seluruh tubuh manusia.

Selain itu, dia menambahkan, di sistem pencernaan dapat menimbulkan colitis ulseratif dan necrotizing enterocolitis. "Kemudian sistem imunitas (kekebalan) akan terganggu dan dengan penurunan efisiensi sistem imun mengakibatkan mudah terjadi infeksi dan aktivitas respons proinflamasi," katanya.

Dia menambahkan, seringkali rokok elektrik menjadi isu pilihan bagi perokok yang ingin menghentikan kebiasaan merokok tembakau dengan alasan rokok elektrik lebih aman. Ternyata, dia menambahkan, konsekuensi dan risiko yang mungkin dihadapi tidak jauh berbeda dibandingkan rokok biasa.

Kemudian dari beberapa data diketahui bahwa angka keberhasilan untuk berhenti merokok tidak terlalu tinggi dengan rokok elektrik. "Jadi perlu dipikirkan cara lain yang lebih aman dan efektif," ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA