Selasa, 3 Jumadil Akhir 1441 / 28 Januari 2020

Selasa, 3 Jumadil Akhir 1441 / 28 Januari 2020

Mengapa Defisit Neraca Perdagangan Tinggi?

Kamis 16 Mei 2019 08:03 WIB

Rep: ADINDA PRYANKA, INTAN PRATIWI/ Red: Elba Damhuri

Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Selasa (15/5). BPS mencatat, neraca perdagangan April 2019 mengalami defisit sebesar 2,5 miliar dolar AS.

Foto:
BPS melaporkan neraca perdagangan April defisit 2,5 miliar dolar AS.

Bambang mengatakan, pemerintah turut mencermati laju impor. Nilai impor memang naik secara bulanan, tapi turun jika dibandingkan tahun lalu. Menurut Bambang, impor perlu dijaga seimbang karena berkaitan dengan aktivitas industri domestik.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menilai, turunnya kinerja dagang dipengaruhi kondisi global. Menurut dia, permintaan ekspor dari mitra dagang utama menurun. "Sinyal ini menggambarkan bahwa ekonomi dunia memang mengalami situasi yang tidak mudah," ujar Sri.

Meski begitu, Sri mengakui faktor internal turut memengaruhi terjadinya defisit neraca perdagangan. Ia memperkirakan, banyak perusahaan yang menggenjot impor sebelum Lebaran.

"Mungkin mereka melakukan kalkulasi karena sesudah Lebaran akan ada libur panjang. Jadi, semuanya (impor) ditumpuk di bulan April," ujar Sri Mulyani.

Perlambatan Industri

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho menilai, menurunnya kinerja ekspor pada April menunjukkan indikasi perlambatan industri manufaktur. Sebab, kondisi tersebut diiringi dengan kinerja impor bahan baku/penolong dan barang modal yang melambat masing-masing 6,28 persen dan 8,68 persen dibandingkan tahun lalu.

Andry mengatakan, ekspor nonmigas memiliki kontribusi besar terhadap total nilai ekspor turun 10,98 (yoy). "Ekspor industri manufaktur bahkan jatuh lebih dalam 11,82 persen," ujarnya, Selasa (15/5).

Sementara itu, Andry menambahkan, pola industri Indonesia memiliki kelemahan di sektor hulu yang masih mengandalkan impor. Ketika impor turun, terutama pada bahan baku dan barang penolong, hampir dapat dipastikan terjadi perlambatan pada industri dan investasi.

Di sisi lain, sejumlah negara dan kawasan kini mulai tertutup terhadap CPO Indonesia. Padahal, CPO merupakan kontributor utama ekspor nonmigas bagi Indonesia. Penurunan ekspor tersebut dapat dilihat dari kontraksi pada golongan barang HS 2 digit lemak dan minyak hewan nabati sebesar 19,88 persen.

Banyak cara yang dapat dilakukan pemerintah. Andry mengatakan, salah satunya menyelesaikan permasalahan ekspor sawit. Yakni dengan cara mencari pembeli potensial selain negara-negara tradisional yang saat ini masih tertutup dan memberikan restriksi terhadap produk-produk Indonesia. "Itu untuk jangka pendek," katanya.

Untuk jangka panjang, Indonesia harus bisa beralih atau melakukan diversifikasi komoditas ekspor. Yakni dari ekspor berbasis komoditas, seperti sawit dan batu bara menjadi ekspor berbasis barang-barang berteknologi tinggi. (dedy darmawan nasution ed: satria kartika yudha)

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA