Saturday, 16 Zulhijjah 1440 / 17 August 2019

Saturday, 16 Zulhijjah 1440 / 17 August 2019

RSHS Siapkan Ruang Isolasi untuk Pasien Cacar Monyet

Jumat 17 May 2019 23:34 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Direktur Utama RSUP Hasan Sadikin, Nina Susana Dewi (kiri) dan Ketua Tim Medis Asian Games RSHS, Doddy Tavianto di RSHS, Kota Bandung, Senin (13/8).

Direktur Utama RSUP Hasan Sadikin, Nina Susana Dewi (kiri) dan Ketua Tim Medis Asian Games RSHS, Doddy Tavianto di RSHS, Kota Bandung, Senin (13/8).

Foto: Republika/Hartifiany Praisra
Dirut RSHS menyebut rumah sakitnya siapkan ruang isolasi pasien cacar monyet

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Sebagai rumah sakit pusat rujukan nasional, Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) siap melayani pasien dengan indikasi terkena Monkeypox atau cacar monyet. Menurut Dirut RSHS dr R Nina Susana Dewi, Sp PK(K), akses masuk pasien, melalui rawat jalan dan IGD sesuai indikasi medis. 

"RSHS memiliki ruang isolasi yang dapat digunakan untuk merawat pasien dengan Monkeypox baik di IGD, lnstalasi Rawat lnap (dewasa dan anak) dengan jumlah 9 bed. Tapi sampai sekarang kasus tersebut belum ada, dan semoga tak akan ada," ujar Nina kepada wartawan, Jumat (17/5).

Menurut Nina, ruang isolasi memang disiapkan untuk pasien dengan kasus khusus seperti flu burung dan cacar monyet ini. Ruangan ini, dilengkapi berbagai peralatan serta ada tim perawat yang stand by.

"Ruangan isolasi ini, udara dari dalam tak langsung keluar memang dibuat untuk penyakit yang harus segera ditangani agar virusnya tak menyebar," katanya.

Nina menjelaskan, baru-baru ini kita mendengar kasus Human Monkeypox ditemukan di Singapura. Berdasarkan siaran pers Kementerian Kesehatan Singapura pada tanggal 9 Mei 2019, telah terjadi satu kasus (MPX) pertama di Singapura.

Kasusnya adalah warga negara Nigeria, yang merupakan salah  satu negara endemis cacar monyet, yang bekunjung ke Singapura pada 28 April 2019 dan dinyatakan positif terinfeksi virus Monkeypox (MPXV) pada 8 Mei 2019. 

Berdasarkan data dari SINKARKES, kata dia, dari bulan Januari sampai 10 Mei 2019, kedatangan kapal ke Indonesia yang terbanyak adalah Singapura. Serta, penerbangan dari Singapura relatif cukup banyak sehingga kemungkinan terjadinya penyebaran penyakit Monkeypox ke Indonesia bisa terjadi.

"Meskipun menurut Kementerian Kesehatan Singapura risiko penyebarannya rendah di Singapura," katanya. 

Oleh karena itu, kata dia, sesuai surat edaran dari Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI, rumah sakit dan puskesmas bertugas menyebarluaskan informasi mengenai Monkeypox. Serta, melayani pasien suspek Monkeypox sesuai prosedur dan berpusat pada keselamatan pasien serta petugas kesehatan.

"Kami memiliki kewajiban, kalau menemukan kasus suspek Monkeypox ini, harus segera dilaporkan ke Dinas Kesehatan Provisi Jawa Barat," katanya. 

Berdasarkan data WHO, kata dia, Afrika Tengah dan Afrika Barat merupakan daerah endemis Monkeypox. Penyakit ini, ditularkan oleh hewan terutama hewan pengerat yang mengandung virus Monkeypox. Penularan terjadi melalui gigitan, cakaran, kontak langsung dengan darah, cairan tubuh atau lesi di kulit atau mukosa hewan, serta makan daging yang tidak dimasak dengan baik. 

"Penularan dari manusia ke manusia bisa dimungkinkan namun sangat terbatas, melalui sekret pernapasan atau lesi pada kulit," katanya.

Gejal monkey pox ini, kata dia, mirip dengan smallpox (cacar) namun lebih ringan. Masa inkubasi 5-21 hari, gejala yang timbul berupa demam sakit kepala hebat‚ limfadenopati (pembesaran kelenjar getah bening), nyeri punggung, nyeri otot dan lemas. Ruam pada kulit muncul pada wajah kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya. Ruam ini berkembang mulai dari bintik merah seperti cacar (markulopapula), lepuh berisi cairan bening (vesikel), lepuh berisi nanah (pastule), dan kemudian mengeras.

"Biasanya diperlukan waktu hingga 3 minggu sampai ruam tersebut menghilang," katanya.

Monkeypox, kata dia, biasanya merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri dengan gejala yang berlangsung selama beberapa hari. Namun, kasus yang parah lebih sering terjadi pada anak-anak dan terkait dengan tingkat paparan virus, status kesehatan pasien dan tingkat keparahan komplikasi. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA