Monday, 24 Muharram 1441 / 23 September 2019

Monday, 24 Muharram 1441 / 23 September 2019

Pengumuman Hasil Pemilu Dianggap Perang Badar, Ini Kata TGB

Selasa 21 May 2019 00:00 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Andi Nur Aminah

Mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat, Muhammad Zainul Majdi

Mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat, Muhammad Zainul Majdi

Foto: Republika/Nawir Arsyad Akbar
Perang Badar itu berhadapan dengan orang-orang yang ingin menghancurkan umat Islam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi menanggapi anggapan hari pengumuman hasil Pilpres 2019 sebagai 'Perang Badar'. Pengumuman hasil Pemilu 2019 jatuh pada 22 Mei yang bertepatan dengan 17 Ramadhan. Di dalamnya terdapat peristiwa bersejarah umat Islam: perang Badar.

"Ya itulah pentingnya kita beragama dengan ilmu. Tidak cukup hanya dengan semangat, termasuk memahami perang Badar. Dan momen-momen sejarah itu ada konteksnya. Perang Badar itu berhadapan dengan orang-orang yang ingin menghancurkan umat Islam pada waktu itu," kata dia di kantor LPOI, Jakarta Pusat, Senin (20/5).

Baca Juga

Menurut TGB, konteks tersebut berbeda dengan situasi di Indonesia saat ini. "Kita di Indonesia satu rumah, satu bangsa, bersaudara. Jadi kita tidak boleh mencabut satu konteks itu," jelas mantan gubernur Nusa Tenggara Barat ini

Sebelumya, Ketua Umum Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) KH Said Aqil Siroj pun heran dengan anggapan tersebut. Dia menjelaskan, perang Badar itu antara umat Muslim dan kafir. Konteks yang terjadi sekarang di Indonesia berbeda, yakni agenda demokrasi lima tahunan sesama satu bangsa dan sesama manusia.

"Kan itu (perang Badar) dengan orang kafir. Nah ini apakah dengan orang kafir apa? Artinya bukan soal 01 atau 02, lebih dari itu malah. Saya juga heran ini dianggap perang Badar. Bukan. Ini sesama satu bangsa, bahkan sesama umat Islam, mana perang Badar," kata ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ini.

Said menegaskan, Pemilu bukanlah perang agama. "Pilpres kok malah jadi agama gimana sih. Ini hanya sistem demokrasi yang harus kita jalankan dalam rangka memilih presiden, wakil presiden, wakil rakyat, secara langsung. Bukan perang agama, hanya partai politik atau figur yang berlomba," imbuhnya.

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA