Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

Inflasi di Sumbar Disebabkan Harga Bawang dan Cabai

Kamis 23 May 2019 17:14 WIB

Rep: Febrian Fachri/ Red: Muhammad Hafil

Inflasi, ilustrasi

Inflasi, ilustrasi

Foto: Pengertian-Definisi.Blogspot.com
Pemprov Sumbar telah melakukan operasi pasar.

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG--Kepala Perwakilan Bank Indnesia Sumatra Barat Wahyu Purnama mengatakan inflasi di Sumbar pada April lalu cukup rendah yakni di angka 0,44 persen. Angka tersebut sedikit meningkat dibandingkan Maret yakni 0,30 persen.

"Tekanan inflasi Sumatera Barat masih terkendali pada April 2019. Perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) Sumatera Barat pada April 2019 mencatatkan inflasi sebesar 0,44% (mtm), atau meningkat sedikit dibandingkan Maret 2019," kata Wahyu, Kamis (23/5).

Angka 0,44 persen ini menjadikan Sumbar berada di peringkat 16 inflasi tertinggi secara nasional. Namun menurut Wahyu Perkembangan inflasi Sumatera Barat selama empat tahun terakhir relatif terkendali dan hampir mencatatkan pola yang sama. Tekanan inflasi Sumatera Barat dapat terkendali hingga akhir tahun karena terjaganya pasokan bahan pangan strategis seiring dengan adanya panen dari sentra produksi di dalam dan dan dari luar Sumatra Barat.

Penyebab kenaikan inflasi Sumbar periode April dibandingkan Maret menurut Wahyu adalah tekanan yang kuat dari kelompok bahan makanan dengan komoditas utamanya ialah bawang merah, cabai merah dan bawang putih. Tingginya permintaan menjelang Ramadhan ditengah terbatasnya pasokan disinyalir menjadi penyebab melonjaknya harga-harga. Yang paling menyita perhatian kemarin adalah melonjaknya harga bawang putih mencapai Rp 80 ribu perkilogram.

Untungnya kata Wahyu Pemerintah Provinsi Sumbar bersama Dinas Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian melakukan operasi pasar dengan memasok 46 ton bawang putih impor. Sehingga sejak pertengahan Ramadhan ini harga bawang putih kembali normal yakni maksimal Rp 35 ribu.

Sementara untuk bidang transportasi lanjut Wahyu inflasi masih dipengaruhi transportasi udara yang mendekati harga batas atas. Terlebih menjelang Ramadhan dan Idul Fitri ini permintaan lebih banyak dari hari biasanya meskipun mahal.

Inflasi di Sumbar ini tertahan oleh deflasi dari komoditas beras, udang basah, dan bayam. Kemudian ada juga tertahan dari deflasi kelompok sandang yang berasal dari
menurunnya harga emas perhiasan dan kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar. Untuk listik karena adanya diskon tarif listrik bagi pelanggan golongan 900 VA.
 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA