Monday, 6 Sya'ban 1441 / 30 March 2020

Monday, 6 Sya'ban 1441 / 30 March 2020

Merapi Masih Rajin Muntahkan Lava dan Awan Panas

Selasa 21 May 2019 18:57 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Fernan Rahadi

Gunung Merapi

Gunung Merapi

Foto: ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah
Sejak 21 Mei 2018, aktivitas vulkanik Gunung Merapi belum stabil.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Hari ini tepat satu tahun tingkat aktivitas Gunung Merapi ditetapkan level dua atau waspada. Namun, hingga hari ini, Gunung Merapi masih sangat rajin memuntahkan lava pijar dan awan panas.

Sejak 21 Mei 2018, aktivitas vulkanik Gunung Merapi memang belum stabil. Bahkan, masih rajin memuntahkan guguran-guguran baik lava pijar maupun awan panas.

Walau kuantitas guguran awan panas menurun signifikan, tren itu tidak terlihat di guguran lava pijar. Setiap hari, kuantitas guguran lava pijar yang dikeluarkan masih tinggi.

Terakhir, awan panas dimuntahkan pada Senin (20/5) sore. Kepala Pos Pengamatan Gunung Merapi (PGM) Kaliurang, Sunarta melaporkan, guguran beramplitudo 65 milimeter.

"Durasi 118 detik, jarak luncur terpantau dari CCTV sejauh 1.100 meter ke arah hulu Kali Gendol," kata Sunarta, Senin (20/5).

Itu jadi kali ketiga Gunung Merapi memuntahkan guguran awan panas pada pekan ketiga Mei 2019 (minus 21 Mei). Secara kuantitas terlihat ada penurunan signifikan.

Sebab, pada pekan ketiga April 2019 (minus 21 April) saja, sudah ada 11 guguran awan panas dimuntahkan Gunung Merapi. Walaupun tetap diwarnai aktiviats kegempaan lain.

Tapi, angka itu bahkan setara jumlah guguran awan panas yang telah dikeluarkan Gunung Merapi pada satu pekan terakhir Maret 2019. Itu dicatatkan selama periode 25-31 Maret 2019.

Jarak luncur terjauh dicatatkan guguran awan panas 14 Mei 2019 dengan 1.200 meter. Jarak luncur Mei turut alami penurunan jika dibandingkan guguran April yang rata-rata di atas 1.000 meter.

Namun, jika dibandingkan awan panas, guguran lava pijar masih sangat tinggi angka hariannya. Senin (20/5) saja, ada tidak kurang 18 guguran lava pijar dimuntahkan Gunung Merapi.

Itu jadi jumlah guguran harian terbanyak selama tiga bulan terakhir. Tapi, pada 7 dan 16 Mei 2019 lalu, lava pijar harian termasuk tinggi karena sampai 10 guguran terjadi.

Untuk itu, cukup wajar jika Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) masih belum mau menurunkan status waspada. Termasuk, rekomendas-rekomendasi.

Kepala BPPTKG, Hanik Humaida, masih merekomendasikan area dalam radius tiga kilometer dari puncak Gunung Merapi agar tidak ada aktivitas manusia. Baik kepentingan penduduk maupun pendakian.

"Masyarakat dapat beraktivitas seperti biasa di luar radius tiga kilometer dari puncak Gunung Merapi," ujar Hanik.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA