Friday, 4 Rajab 1441 / 28 February 2020

Friday, 4 Rajab 1441 / 28 February 2020

Gunung Agung Erupsi Disertai Lontaran Lava

Sabtu 25 May 2019 01:12 WIB

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Andi Nur Aminah

Gunung Agung mengeluarkan abu vulkanik terlihat dari Desa Tulamben, Karangasem, Bali, Jumat (22/2/2019).

Gunung Agung mengeluarkan abu vulkanik terlihat dari Desa Tulamben, Karangasem, Bali, Jumat (22/2/2019).

Foto: Antara/Nyoman Hendra Wibowo
Suara gemuruh dan lontaran lava pijar menjadi penanda kuatnya erupsi kali ini.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kembali erupsinya Gunung Agung, Bali pada Jumat (24/5) malam. Suara gemuruh dan lontaran lava pijar menjadi penanda kuatnya erupsi kali ini.

Baca Juga

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan pos pengamatan Gunung Agung mencatat erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 30 mm dan durasi sekitar 4 menit 30 detik. "Erupsi disertai suara gemuruh sedang hingga kuat yang terdengar di pos pengamatan. Erupsi juga disertai lontaran batu/lava pijar sejauh 2,5 km hingga 3 km ke segala arah. Tinggi kolom erupsi tidak teramati. Sebaran abu vulkanik dan pasir mengarah ke Selatan," katanya dalam keterangan resmi.
 
BNPB memperoleh informasi hujan abu dan pasir terjadi di beberapa tempat. Pertama, laporan BPBD Karangasem menyebut hujan dan pasir turun di 9 desa. Kedua, BPBD Bangli melaporkan hujan abu turun dengan intesitas tebal di 3 kecamatan.

Dengan kondisi itu, status Gunung Agung tetap Siaga (level III). Direkomendasikan masyarakat/pendaki dan wisatawan dilarang melakukan aktivitas di dalam radius 4 km dari puncak.

Erupsi pada malam ini bukan yang pertama kali, namun sudah beberapa kali. Tiga erupsi Gunung Agung terakhir tercatat pada 12/5, 18/5 dan 24/5 atau hampir setiap enam hari sekali dengan karakter yang hampir sama.

"PVMBG terus memantau dengan intensif perkembangan aktivitas vulkanik. Masyarakat diimbau untuk selalu waspada dan ikuti semua rekomendasi PVMBG. Belum perlu ada pengungsian karena permukiman masih berada di zona aman," ucapnya. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA