Monday, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 February 2020

Monday, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 February 2020

Tangis Keluarga Korban Rusuh 22 Mei Pecah di Gedung Dewan

Senin 27 May 2019 19:29 WIB

Rep: Arif Satrio Nugroho/ Red: Andi Nur Aminah

Sejumlah keluarga korban kerusuhan 22 Mei 2019 mengadu ke DPR RI, Senin (27/5).

Sejumlah keluarga korban kerusuhan 22 Mei 2019 mengadu ke DPR RI, Senin (27/5).

Foto: Republika/Arif Satrio Nugroho
Mereka menuntut keadilan dan meminta DPR mendorong pengungkapan kematian korban.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejumlah keluarga korban kerusuhan 22 Mei 2019 mengadu ke DPR RI, Senin (27/5). Mereka menuntut keadilan dan meminta pada DPR RI, mendorong pengungkapan penyebab kematian anggota keluarga mereka dalam rusuh 22 Mei 2019.

Baca Juga

Sejumlah keluarga yang difasilitasi Tim Advokasi Korban 21 - 22 Mei itu bertemu dengan Wakil DPR RI Koordinator Politik dan Keamanan Fadli Zon dan Anggota Komisi III (Hukum, HAM dan Keamanan) Muhammad Syafii. Mereka menunjukkan video dan foto yang menunjukkan kebrutalan aparat kepolisian.

Mereka menunjukkan sedikitnya ada 32 foto dan video yang menampilkan oknum berseragam polisi memukuli dan menginjak-injak warga. Juga foto jenazah warga yang ditemukan. Di antara keluarga korban, tampak hadir orang tua Harun Al Rasyid (15 tahun), kakak salah satu korban bernama Sandro, dan sejumlah keluarga lainnya.

Saat video ditampilkan, tangis keluarga pun pecah. Orang tua Harun Al Rasyid menangis melihat foto-foto saat jenazah putra keduanya ditemukan. Mereka juga sempat mengklarifikasi video penganiayaan oleh anggota polisi di dekat masjid. "Itu bukan anak kami, tapi harus ada yang bertanggung jawab atas anak kami," kata ayah Harun, Didin Wahyudin.

Mereka menuntut DPR RI agar mendorong upaya advokasi mereka mengungkap penyebab kematian anggota keluarga mereka. "Saya minta pertanggungjawabannya," kata Refdi Dores, kakak korban yang bernama Sandro (31 tahun).

Ketua Tim Advokasi Ismar Syafruddin menyatakan, tim advokasi juga akan mengajukan pengaduan ke  Komisi Nasional HAM, bahkan hingga ke Perserikatan Bangsa-Bangsa. "Pelakunya harus dilakukan pengusutan secara tuntas siapa-siapa pelakunya, keadilan harus ditegakkan di Indonesia. Mungkin bapak sendiri menyampaikan harus melakukan laporan, inilah kita bikin laporan, dan mengharapkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia," kata Ismar, Senin (27/5).

Tim advokasi menyebut, setidaknya pihaknya mendata 10 korban dalam kerusuhan. Sembilan di Jakarta dan satu di Pontianak. Mereka adalah Abdul Aziz (27 tahun), Adam Nuriyan (19 tahun), Bahtiar Alamsyah (22 tahun), Farhan Syafero (31 tahun), Harun Al Rasyid (15 tahun), Raihan Fajari (16 tahun), Sandro (31 tahun) dan Widyanto Rizki Ramadhan (17 tahun).

Rian Saputra (15 rahun) disebut meninggal di Pontianak. sSedangkan satu korban lagi, Ishak disebut belum terkonfirmasi. Tim advokasi juga mencatat sebanyak 87 orang masih hilang dalam kerusuhan tersebut.

Fadli Zon yang menerima perwakilan keluarga korban menyatakan, laporan mereka akan ditindaklanjuti ke pihak terkait, di antaranya Presiden RI, Kapolri dan Komisi III DPR RI. "Untuk mendalami dan menginvestigasi sehingga ada penyebab wafatnya 8 orang minimal. Kemudian, tadi juga dari tim advokasi sampai hari Jumat ternyata masih ada laporan 87 yang hilang," kata Fadli Zon.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo menuturkan, pihaknya tak bisa menyimpulkan adanya kekerasan berdasarkan video yang beredar di media sosial. Polri beralasan, Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri perlu mengidentifikasi terlebih dahulu video - video yang menampilkan kebrutalan aparat.

"Koordinasi langsung (dilakukan) Ditsiber untuk meneliti kembali video tersebut termasuk ada beberapa narasi yang sifatnya perlu kita klarifikasi lagi. Nanti hasilnya kita sampaikan apabila ada data yang jelas dari proses investigasi dari ditsiber," kata Dedi.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA