Wednesday, 14 Rabiul Akhir 1441 / 11 December 2019

Wednesday, 14 Rabiul Akhir 1441 / 11 December 2019

Kabar Hujan Abu di Sleman dari Gunung Merapi Hoaks

Jumat 07 Jun 2019 12:15 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Israr Itah

Hamparan lahan pertanian padi berlatar belakang Gunung Merapi. (ilustrasi)

Hamparan lahan pertanian padi berlatar belakang Gunung Merapi. (ilustrasi)

Foto: Antara/Aloysius Jarot Nugroho
Gambar-gambar yang disebarkan sekadar kabut yang muncul di suatu tempat.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Masyarakat sekitar Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sempat dikejutkan kabar yang menyebutkan terjadinya hujan abu di sejumlah titik di Kabupaten Sleman. Tapi, kabar itu ternyata hoaks atau berita bohong.

Baca Juga

Parahnya, kabar yang tersebar di grup-grup WhatsApp itu disebar menggunakan gambar. Gambar-gambar itu seolah menjadi penegas kuat bahwa kabar itu memang benar.

Sebagian gambar disebarkan dengan keterangan terjadi di Kecamatan Turi dan Kecamatan Tempel. Padahal, gambar-gambar yang disebarkan sekadar kabut yang muncul di suatu tempat.

Bahkan, tidak jelas waktu dan tempat dari gambar-gambar tersebut. Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Hanik Humaida, turut membantah kabar tersebut.

"Tidak, pagi ini tidak terjadi hujan abu, pagi ini wilayah Yogya (DIY) hanya diselimuti kabut," kata Hanik, Jumat (6/6) pagi.

Pengamatan BPPTKG, pagi ini Gunung Merapi cuma beraktivitas gempa guguran sebanyak tiga kali dengan amplitudo 3-10 milimeter. Ada pula satu aktivitas gembusan dengan amplitudo lima milimeter.

Secara meteorologi, cuaca cerah dan berawan dengan angin bertiup lemah ke timur laut dan barat. Suhu 14-19,9 derajat celcius, kelembaban 42-86 persen dan tekanan 628,8-708,5 milimetermerkuri.

Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas sedang dan tinggi 50 meter di atas puncak kawah. Secara umum, Gunung Merapi masih ditetapkan memiliki tingkat aktivitas waspada.

Hanik turut mengingatkan masyarakat yang berwisata di sekitar Gunung Merapi untuk mematuhi rekomendasi-rekomendasi yang ada. Utamanya, soal jarak aman beraktivitas.

Ia menekankan, radius tiga kilometer dari puncak Gunung Merapi tidak boleh ada aktivitas penduduk. Masyarakat dapat beraktivitas seperti biasa di luar radius tiga kilometer.

Saat ini, pendakian Gunung Merapi ditutup kecuali untuk kegiatan penelitian dan penyelidikan. Namun, ia menegaskan, obyek-obyek wisata di luar radius tiga kilometer aman.

"Seperti Kaliurang, Kaliadem, Klangon, Deles dan kawasan-kawasan lain yang berada di luar radius tiga kilometer dari puncak Gunung Merapi aman untuk dikunjungi," ujar Hanik.

Ia mengingatkan, bila terjadi hujan abu masyarakat tidak perlu panik. Lakukan tindakan antisipasi gangguan akibat abu vulkanik seperti memakai kaca mata dan masker, atau menutup sumber air. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA