Thursday, 3 Rajab 1441 / 27 February 2020

Thursday, 3 Rajab 1441 / 27 February 2020

Warga Papua Diajak Menerima Hasil Pilpres 2019 dengan Legawa

Ahad 09 Jun 2019 01:16 WIB

Red: Andri Saubani

Petugas membantu penyandang disabilitas memasukkan surat suara ketika mengikuti pemilu 2019 susulan di TPS 31 Jayapura Selatan, Jayapura, Papua, Kamis (18/4/2019).

Petugas membantu penyandang disabilitas memasukkan surat suara ketika mengikuti pemilu 2019 susulan di TPS 31 Jayapura Selatan, Jayapura, Papua, Kamis (18/4/2019).

Foto: Antara/Gusti Tanati
Yang menang dan yang kalah pada pemilu sama-sama diridhai oleh Tuhan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAYAPURA -- Segenap warga Papua dan Indonesia pada umumnya diajak untuk menerima hasil Pilpres dan Pileg 2019 dengan legawa atau berjiwa besar. Yang menang dan yang kalah pada pemilu sama-sama diridhai oleh Tuhan.

"Apa pun hasil itu yang nantinya diumumkan secara resmi oleh KPU setelah berbagai persoalan disidangkan, maka semua pihak, siapa pun dia, harus legawa, berjiwa besar menerima hasilnya," kata Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Papua Pdt Lipiyus Biniluk di Kota Jayapura, Sabtu (9/6).

Menurut dia, baik yang kalah dan menang harus menyadari bahwa, inilah akhir dari proses demokrasi lima tahunan yang telah dilalui atau dilakukan pada 17 April lalu. Sehingga, warga Papua harus berbesar hati dengan hasilnya.

"Siapa pun menang, semua pihak harus menerima dengan hati yang aman dan damai, Karena yang menang juga diridhai oleh Tuhan, begitu juga yang kurang beruntung, diridohi Tuhan, tunggu untuk bersaing lagi pada lima tahun berikutnya. Jadi mari memberikan apresiasi kepada yang menang," katanya.

Kepada partai politik dan warga atau para simpatisan dan pendukung pasangan presiden 01 dan 02, harus mengedepankan kedamaian dan kerukunan. "Tidak ada untungnya saling gontok-gontokan dan paksakan kehendak, karena itu tidak baik. Jadi, kalau sudah terjadi dan tahu hasilnya, harapnya bisa menerima dengan baik dan berjiwa kenegarawanan," katanya.

Mengenai aksi berujung kerusuhan pada 21 dan 22 Mei lalu di Jakarta, Pdt Lipiyus mengaku menyesalkan, karena terjadi kerugian material dan korban jiwa. "Bagi kami, itu adalah aksi terakhir dan tidak boleh terjadi lagi. Kami FKUB Provinsi Papua meminta tidak boleh terjadi lagi. Jika terjadi lagi, kami minta aparat keamanan untuk bertindak tegas dan tidak kompromi karena bisa mengganggu stabilitas negara," katanya.


Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA