Senin, 25 Jumadil Awwal 1441 / 20 Januari 2020

Senin, 25 Jumadil Awwal 1441 / 20 Januari 2020

Ramadhan Seperti Prajabatan ASN

Kamis 06 Jun 2019 06:55 WIB

Rep: Inas Widyanuratikah/ Red: Dwi Murdaningsih

(Ilustrasi) iktikaf di bulan Ramadhan

(Ilustrasi) iktikaf di bulan Ramadhan

Foto: Republika/mgrol101
Keberhasilan Ramadhan diuji ketika sudah berlalu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ustaz Jamaluddin F. Hasyim selaku khatib jamaah Shalat Id di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyampaikan bahwa bulan Ramadhan ini bagaikan kamp pendidikan. Ia mengibaratkan Bulan Ramadhan adalah saat Aparatur Sipil Negara (ASN) melakukan diklat prajabatan.

Pada saat prajabatan, ASN yang sebenarnya akan terlihat. "Kalau ASN mungkin mengenalnya sebagai diklat prajabatan. Di sanalah kondisi seseorang akan terlihat. Dengan jadwal yang ketat, instruktur yang jelas dan tegas, sistem dan metode yang terukur, maka disanalah orang dilihat apakah layak untuk masuk pada fase selanjutnya," kata Jamaluddin, saat menjadi khatib, Rabu (5/6).

Namun, ia mengatakan, keberhasilan Ramadhan ini harus diuji lagi. Sebab, sebagaimana diklat prajabatan itu, kualitas seorang pegawai akan terlihat ketika dia masuk ke dalam lingkungan kerja yang sebenarnya.

Selanjutnya, dijelaskan Jamaluddin, manusia sebagai individu harus menjaga agar kehidupan sosial yang sudah baik dapat terus dipelihara. "Akhlak adalah berpolitik dalam lingkup sempit, sedangkan urusan berbangsa dan bernegara berarti akhlak dalam skala besar, meliputi kehidupan berbagsa dan bernegara," kata Jamaluddin.

Maka dari itu, lanjut dia, bukan kesimpulan yang berlebihan jika momentum Idulfitri dimaksudkan sebagai momentum persatuan bangsa. Momentum ini berarti mengakhiri kebiasaan negatif seperti mengedepankan perbedaan, membesar-besarkan konflik atau sifat-sifat intoleran dan anarkis yang mengemuka dalam masyarakat.

Persatuan bangsa, kata Jamaluddin, adalah syarat vital terwujudnya pembangunan nasional. Perbedaan adalah kekayaan bangsa, namun jangan menjadi sumber perpecahan akibat terlalu mengedepankan identitas dan kepentingan masing-masing.

"Tidak ada senjata yang ampuh melebihi persatuan dan kesatuan, dan tidak ada pertahanan yang kokoh melebihi persatuan dan kesatuan. Persatuan dan kesatuan adalah fitrah sebuah bangsa," kata dia lagi.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA