Saturday, 4 Sya'ban 1441 / 28 March 2020

Saturday, 4 Sya'ban 1441 / 28 March 2020

Mentan: Inflasi Bahan Pangan Perlu Dibaca Secara Akumulatif

Selasa 11 Jun 2019 16:44 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: EH Ismail

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman

Foto: Humas Kementan
Inflasi bahan pangan dalam skala tahunan mengalami penurunan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, inflasi bahan pangan pada Mei 2019 jangan dibandingkan secara bulanan. Menurut dia, dalam kinerja Kementerian Pertanian (Kementan) dalam kurun empat tahun terakhir, angka inflasi bahan pangan cenderung menurun jika dibandingkan dalam skala tahunan.

Dia menjabarkan, hingga kuartal II 2019, inflasi bahan pangan tidak melonjak signifikan. Adapun inflasi bahan pangan, kata dia, terjadi pada Januari, April, dan Mei. Sedangkan deflasi bahan pangan terjadi pada Februari dan Maret, yang menurut dia, merupakan salah satu momentum deflasi besar-besaran yang pernah dicatatkan Kementan. 

“Jadi akumulasi inflasinya kecil saja, yang besar itu justru deflasi. Itu yang perlu dicatat,” kata Amran kepada Republika, di Gedung Kementan, Jakarta, Selasa (11/6).

Sebelumnya diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis penyebab utama inflasi pada Mei 2019 adalah harga bahan pangan. Adapun kelompok bahan pangan mengalami kenaikan harga sebesar 2,02 persen atau mengalami kenaikan indeks dari 149,03 pada April 2019 menjadi 152,04 pada Mei 2019. Mengacu catatan tersebut, bahan makanan memberi andil terhadap inflasi Mei 2019 sebesar 0,43 persen meliputi cabai merah, ayam ras, dan bawang putih.

Amran menyebut, inflasi bahan pangan dalam skala tahunan atau year on year (yoy) mengalami penurunan. Berdasarkan catatan BPS, inflasi bahan pangan pada 2018 berada di level 3,41 persen. Inflasi tersebut tercatat meningkat paling tinggi jika dibandingkan dengan catatan BPS tahun 2017 sebesar 1,26 persen. Adapun bahan pangan menjadi komponen yang paling berpengaruh terhadap laju inflasi di 2018 dengan andil sebesar 0,68 persen. 

Menurut Amran, pihaknya selalu menekan inflasi bahan pangan dengan melakukan antisipasi berupa peningkatan produksi. Dia mencontohkan, untuk persiapan Ramadhan dan Lebaran, Kementan menggenjot produksi sebesar 10-20 persen sejak tiga bulan sebelumnya. Menurut dia, meski harga bahan pangan seperti cabai dan beras sempat jatuh, hal itu segera dapat ditindaklanjuti dengan cepat.

“Kami responsif terhadap informasi. Begitu (kami) dengar harga jatuh, kami langsung ke lapangan dan atasi. Jadi, pasokan dan harga stabil-stabil saja,” kata dia.

Amran menjamin, ketersediaan bahan pangan serta harga akan terus terjamin dan stabil. Meski begitu dia mengakui, inflasi beberapa waktu lalu sempat dipengaruhi oleh melonjaknya harga bawang putih sebab pasokan impor belum memenuhi pasar. Namun seiring berjalannya waktu, kata Amran, harga bawang putih terbukti mengalami penurunan yang cukup signifikan.

“Bawang putih ini gampang lah, dia kan impor barangnya. Jadi mudah mengendalikan,” kata Amran.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA