Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Pencemaran Udara di Pantura Meningkat Saat Libur Lebaran

Rabu 12 Jun 2019 08:53 WIB

Red: Ratna Puspita

Foto udara kendaraan arus balik di Jalur Pantura, Kendal, Jawa Tengah, Senin (10/6/2019).

Foto udara kendaraan arus balik di Jalur Pantura, Kendal, Jawa Tengah, Senin (10/6/2019).

Foto: Antara/Harviyan Perdana Putra
Pencemaran udara menandakan peningkatan aktivitas kendaraan saat Lebaran.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pencemaran udara di sepanjang pantai utara (Pantura) Jawa juga meningkat yang terpantau sempat memburuk saat libur Lebaran 2019. Peningkatan karena adanya peningkatan konsentrasi partikulat debu kurang dari 2,5 mikron (PM2,5).

Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Safrudin mengatakan tingginya PM2.5 terjadi hampir di seluruh wilayah pantura Jawa ini menandakan peningkatan aktivitas kendaraan saat Lebaran di berbagai wilayah di Jawa. Selain itu, pembakaran biomassa pascapanen, debu akibat memasuki kemarau, terjadi hampir di seluruh wilayah pantura Jawa.

Baca Juga

Belum lagi, PM2.5 dari PLTU batu bara yang banyak dijumpai di pantura Jawa, mulai dari Babelan, Indramayu, Cirebon, Batang, Gresik, hingga Paiton, yang sumbangannya terhadap pencemaran udara tidak sedikit. "Dari rata-rata konsentrasi PM2.5 pada 15-28 mikrogram per meter kubik menjadi rata-rata 47 mikrogram per meter kubik," kata Ahmad di Jakarta, Selasa (11/6).

Ia merinci sumber pencemaran di pantura, Jawa Barat, tidak hanya berasal dari kendaraan bermotor (menyumbang pencemaran 44 persen), tetapi ada juga dari PLTU batu bara (14 persen), pembakaran di proses industri (19 persen), pembakaran biomassa dan sampah (13 persen), debu jalanan (5 persen), proses konstruksi (2 persen), rumah tangga (3 persen).

Lebih lanjut, ia mengatakan kemacetan yang terjadi berjam-jam juga memperberat tingkat pencemaran dari kendaraan bermotor. Namun sekali lagi, dirinya menegaskan bahwa sumber pencemarannya tidak tunggal.

Faktor kemarau memperberat situasi di mana PM2.5 semakin lama tersuspensi di udara sehingga sebelum PM2.5 luruh ke tanah atau badan air justru ditambah lagi oleh pencemaran berikutnya. "Jika ada hujan maka PM2.5 cenderung luruh ke tanah atau badan air berkat ter-flushing air hujan," ujar Ahmad.

Direktur Pengendalian Pencemaran Udara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Dasrul Chaniago sebelumnya mengatakan tipikal kota besar, metropolitan atau megapolitan, 68-70 persen polutan berasal dari sumber bergerak, sedangkan 30 persen tentu dari sumber lain.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA