Friday, 4 Rajab 1441 / 28 February 2020

Friday, 4 Rajab 1441 / 28 February 2020

Warga Banyuwangi Arak 1.000 Ketupat dalam Grebeg Syawal

Rabu 12 Jun 2019 02:30 WIB

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Friska Yolanda

Ketupat

Ketupat

Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
Warga ingin mengemas tradisi lokal kupatan menjadi atraksi menarik.

REPUBLIKA.CO.ID, BANYUWANGI -- Banyuwangi dikenal sebagai daerah yang sering mengadakan atraksi budaya. Salah satunya mengadakan Pawai Grebeg Syawal Sewu Kupat di Desa Temuguruh, Sempu, Banyuwangi, Selasa (11/5).

Baca Juga

Bebagai miniatur bangunan yang disusun dari ribuan ketupat diarak warga ramai-ramai di sepanjang jalan desa. Meski digelar di bawah terik matahari, pawai ini tetap ramai diikuti warga dan menjadi atraksi menarik. Belasan miniatur masjid, rumah, hingga gunungan ketupat diarak dengan diiringi musik tradisional khas Banyuwangi. 

Kepala Desa Temuguruh, Asmuni menjelaskan, kegiatan ini telah memasuki tahun ke-tiga pelaksanaan. Kegiatan ini tak lepas dari inspirasi anak muda desa setempat. Mereka ingin mengangkat tradisi kupatan (makan ketupat) di hari ke-7 Idul Fitri.

Selain itu, inspirasi pemuda Temuguruh juga tidak lepas dari berbagai festival Banyuwangi. Kegiatannya banyak mengangkat tradisi lokal yang dikemas hingga menjadi atraksi menarik. "Mereka lalu berpikir untuk mengangkat tradisi kupatan di desanya. Lalu muncullah Pawai Sewu Kupat ini,” kata Asmuni.

Menurut Asmuni, Pawai Sewu Kupat merupakan hasil kerja seluruh warga. Setiap keluarga ikut berpartisipasi memasak ketupat untuk acara ini. Ribuan ketupat tersebut lalu disusun menjadi belasan bentuk-bentuk dalam ukuran besar.

Lebih detail, setiap kepala keluarga menyumbang minimal empat ketupat. Lalu dikumpulkan oleh RW masing-masing. Kemudian seluruh ketupat dijadikan satu tandu untuk diarak. Satu tandu biasanya menghabiskan minimal 400 ketupat.

Kegiatan pawai ternyata tidak sekedar mengarak ketupat semata. Panitia juga menyertakan berbagai kesenian lokal untuk semakin menarik minat masyarakat. Beberapa di antaranya dengan karnaval Banyuwangi Ethno Carnival, Barong Banyuwangi, musik tradisional Banyuwangi. 

"Hingga pawai pengantin khas Banyuwangi juga ditampilkan," tambah dia melalui pesan resmi yang diterima Republika.co.id, Selasa (11/5).

Wakil Bupati Banyuwangi, Yusuf Widyatmoko mengaku sangat mengapresiasi kreativitas warga Desa Temuguruh. Kegiatan ini dinilai akan berdampak pada keguyuban warga.  Persuadaraan dan persatuan akan terpupuk, mengingat acara dilakukan secara swadaya masyarakat. 

Yusuf berharap agar  kegiatan seperti ini terus dilestarikan dan lebih disempurnakan. Sebab, atraksi yang menarik sangat menunjang perkembangan wisata Banyuwangi sebagai destinasi wisata nasional. Tak lupa juga, dia berharap, ide-ide kegiatan serupa bisa bermunculan dari desa lainnya. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA