Saturday, 22 Muharram 1441 / 21 September 2019

Saturday, 22 Muharram 1441 / 21 September 2019

Mengaku Spontan, Mualem Minta Maaf Serukan Referendum Aceh

Rabu 12 Jun 2019 13:38 WIB

Rep: Arif Satrio Nugroho/ Red: Ratna Puspita

Muzakir Manaf

Muzakir Manaf

Foto: Antara/Rahmad
Permintaan Muzakir Manaf atau Mualem melalui video yang viral di media sosial.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Eks Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Muzakir Manaf alias Mualem meminta maaf telah menyampaikan seruan referendum bagi rakyat Aceh. Pria yang juga Gubernur Aceh periode 2012-2017 itu mengklarifikasi, ajakan referendum itu dilakukan secara spontan.

Permintaan Muzakir Manaf melalui sebuah video yang viral di media sosial. Republika.co.id mendapat video tersebut dari Pimpinan Partai SIRA Aceh yang juga Gubernur Aceh periode 2007-2012 Muhammad Nazar.

Baca Juga

Dalam video itu, Muzakir Manaf yang mengenakan kemeja motif kotaka-kotak memberikan penjelasan mengenai alasannya sempat menyerukan referndum aceh. "Bahwa menyatakan saya tentang referendum tidak... rakyat Aceh saya lakukan hal tersebut secara spontan kebetulan pada event peringatan haul meninggalnya Tengku Hasan Muhammad Ditiro," kata Muzakir Manaf di video, Rabu (12/6).

Melalui video berdurasi 1 menit 17 detik itu, Muzakir Manaf memberikan klarifikasi lengkap berisi empat poin. Muzakir Manaf yang kerap disapa Mualem ini memperkenalkan diri sebagai Ketua Partai Aceh (PA) dan Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA). KPA adalah organisasi yang berisi mantan kombatan GAM pasca-perdamaian MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005.

Melalui video itu Muzakir Manaf menyebut, bahwa rakyat Aceh saat ini cinta damai dan pro-NKRI. Ia berharap Aceh ke depan harus lebih maju, membangun provinsi Aceh dalam bingkai NKRI. Adapun ucapan Muzakir dalam video itu secara lengkap sebagai berikut:

Saya Muzakir Manaf selaku Ketua PA dan KPA menyatakan sebagai berikut:

1. Bahwa menyatakan saya tentang referendum tidak... rakyat Aceh. Saya lakukan hal tersebut secara spontan kebetulan pada event peringatan haul meninggalnya Tengku Hasan Muhammad Ditiro.

2. Bahwa saya menyadari rakyat Aceh saat ini cinta damai dan pro-NKRI.

3. Saya berharap Aceh ke depan harus lebih maju, membangun provinsi Aceh dalam bingkai NKRI.

4. Hal-hal lain yang menurut saya belum sesuai pasca-MoU Helsinki akan saya buat suatu sendiri guna menuntaskan semua butir-butir MoU Helsinki ke depan. 

Wassalamualaikum. Selamat Hari Lebaran 1440 Hijriah, mohon maaf lahir dan batin. Terima kasih.

Sebelumnya, pidato Muzakir Manaf menyerukan referendum Aceh yang sempat viral di media sosial. Ajakan referendum tersebut disampaikan saat memperingati sembilan tahun wafatnya Wali Neugara Aceh, Paduka Yang Mulia Tengku Muhammad Hasan Ditiro pada 27 Mei 2019.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA