Senin, 15 Safar 1441 / 14 Oktober 2019

Senin, 15 Safar 1441 / 14 Oktober 2019

Sapi Diarak Keliling Jalani Tradisi Syawalan di Boyolali

Rabu 12 Jun 2019 12:53 WIB

Red: Indira Rezkisari

Sapi Boyolali.

Sapi Boyolali.

Foto: Antara/Aloysius Jarot Nugroho
Di Boyolali menjadi tradisi untuk memanjakan sapi setiap Syawalan.

REPUBLIKA.CO.ID, BOYOLALI -- Ratusan ekor ternak sapi dan kambing milik masyarakat lereng Gunung Merapi diarak keliling kampung. Ternak tersebut akan mengikuti upacara tradisi Syawalan atau Lebaran Ketupat di Dukuh Mlambon Desa Sruni Kecamatan Musuk Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (12/6).

Upacara tradisi Syawalan Lebaran Ketupat tersebut diawali dengan berdoa bersama. Kemudian dilanjutkan makan kenduri di sepanjang jalan utama Desa Sruni yang diikuti seluruh warga yang mayoritas kehidupannya sebagai peternak sapi dan kambing.

Setelah melakukan doa bersama dan kenduri, mereka pulang ke rumah masing-masing mengambil ternaknya dibawa ke jalan utama desa untuk berkumpul. Ada 250 ekor lebih ternak dengan diiringi kelompok musik gamelan khas jawa reog untuk diarak keliling ke kampungnya.

Salah satu peternak warga RT 5/RW 5 Desa Sruni, Ranto (57) mengatakan memiliki empat ekor sapi perah ikut dikirabkan keliling kampung. Hal ini, sudah menjadi tradisi di desanya sejak dahulu, untuk memanjakan ternaknya setiap Syawalan atau Lebaran Ketupat.

"Sapinya sebelum dikirab keliling kampung, diberikan makan ketupat terlebih dahulu, dan kemudian diolesi minyak wangi. Sapi ini, telah membantu menyejahterakan keluarga," kata Ranto.

Menurut Hadi Sutarno (65), salah satu sesepuh warga Desa Sruni Boyolali, upacara tradisi mengarak ratusan ekor sapi warga di Dukuh Mlambon Desa Sruni Kecamatan Musuk Kabupaten Boyolali digelar setiap Syawalan atau Lebaran Ketupat untuk melestarikan budaya nenek moyang. "Tradisi ini, hanya melestarikan nenek moyang kami, setiap Syawalan atau Lebaran Ketupat selalu mengeluarkan seluruh ternaknya baik sapi maupun kambing dari kandangnya untuk diarak keliling kampung Sruni."

Menurut dia, acara tradisi konon katanya terinspirasi Nabi Sulaiman yang memeriksa ternak milik petani. Setelah itu, dengan perkembangan zaman, tradisi dibudayakan oleh masyarakat lereng Gunung Merapi hingga sekarang bersamaan merayaan Lebaran Ketupat.

Upacara tradisi arak ternak sapi digelar warga di Kampung Mlambong, Gedong dan Rejosari. Ada sebanyak 110 kepala keluarga, dan setiap KK memiliki ternak mulai dua ekor hingga 10 ekor, sehingga ada ratusan ekor sapi yang ikut diarak keliling kampung.

Menurut dia, ternak sapi sebelum diarak keliling kampung diberikan makanan ketupat dan kemudian dioleskan atau diberikan minyak wangi sehingga baunya juga harum.

"Ternak sapi dimanjakan oleh peternaknya karena melalui ternak itu, dapat memberikan kehidupan kesejahteraan bagi keluarga masyarakat setempat. Warga bisa makan, menyekolahkan anaknya dan memberikan kesejahteraan dari hasil ternak sapi," katanya.

Hasil ternak sapi bisa menghasilkan susu murni dan daging. Harga susu murni di desa ini, mencapai sekitar Rp 4.500 per liter hingga Rp 5.000 per liter. Padahal, seekor sapi bisa menghasilkan sekitar 20 hingga 25 liter per hari.

"Jadi upacara tradisi ini, sebelumnya diawali dengan doa bersama dan dilanjutkan makan kenduri. Tanda rasa syukur warga yang ditunjukkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas limpahan rezeki dari hasil berternak sapi dan kambing," katanya.



sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA