Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Ratusan Hektare Tanaman Padi di Indramayu Terancam Puso

Senin 10 Jun 2019 18:04 WIB

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Nur Aini

Ratusan hektare tanaman padi di Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu mengalami kekeringan parah di musim tanam gadu 2019, Senin (10/6).

Ratusan hektare tanaman padi di Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu mengalami kekeringan parah di musim tanam gadu 2019, Senin (10/6).

Foto: Dok Istimewa
Kabupaten Indramayu dilanda kekeringan yang menyebabkan tanaman padi layu.

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU – Kekeringan pada tanaman padi kembali melanda wilayah Kecamatan Kandanghaur dan Losarang, Kabupaten Indramayu. Jadwal gilir giring air yang telah ditetapkan sebelumnya, tak bisa seluruhnya dinikmati para petani. Akibatnya, ratusan hektare tanaman padi di Indramayu terancam puso.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Kandanghaur, Waryono, menyebutkan, kekeringan mulai terjadi sejak Mei 2019. Menurutnya, ratusan hektare tanaman padi di sejumlah desa di Kecamatan Kandanghaur saat ini bahkan sudah terancam tak bisa diselamatkan.

Baca Juga

‘’Tanaman padi mulai layu. Retakan tanahnya yang kering pun sudah lebar sekali,’’ ujar Waryono kepada Republika.co.id, Senin (10/6).

photo

Ratusan hektare tanaman padi di Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu mengalami kekeringan parah di musim tanam gadu 2019, Senin (10/6).

Waryono menyebutkan, tanaman padi yang kekeringan parah hingga terancam puso itu di antaranya tersebar di Desa Karangmulya seluas 261 hektare, Desa Karanganyar sekitar 300 hektare, Desa Wirapanjunan 225 hektare, dan Desa Wirakanan 100 hektare.

Waryono mengakui, instansi terkait memang sudah membuat jadwal gilir giring air sejak Mei lalu. Namun, dia menyatakan, hingga saat ini air belum sampai ke wilayah Kecamatan Kandanghaur meskipun sebenarnya mendapat jatah giliran air.

‘’Setetes pun air tidak pernah sampai,’’ kata Waryono.

Menurut Waryono, hal itu terjadi akibat kurangnya pengawasan terhadap jalannya gilir giring air tersebut. Akibatnya, ditemukan ada balok-balok penahan air di sejumlah titik lokasi sehingga air tidak pernah sampai ke wilayahnya. Padahal, di sejumlah daerah lainnya yang airnya telah tercukupi, malah terus dikirimi air.

Permasalahan air itu saat ini telah mendapat respons dari sejumlah instansi terkait, seperti Dinas PSDA Indramayu dan BBWS Cimanuk Cisanggarung. Mereka menggelar rapat koordinasi dengan mengundang para kepala desa dan camat terkait di Kantor Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu, Senin (10/6).

Waryono mengatakan, dalam rapat itu telah diputuskan bahwa air akan digelontorkan selama sepuluh hari untuk wilayah Kecamatan Losarang dan Kandanghaur. Namun, dari penggelontoran itu, dia memperkirakan hanya bisa menyelamatkan kekeringan di Kecamatan Losarang dan sebagian kecil wilayah Kecamatan Kandanghaur.

‘’Kami tunggu sampai Rabu. Kalau air tidak sampai Kecamatan Kandanghaur, tadi kuwu (kepala desa) rencananya ada yang mau demo. Tapi kalau saya maunya cukup audensi, dan berharap bisa dihadiri juga oleh bupati,’’ kata Waryono.

Sementara itu, salah seorang petani di Desa Karangmulya, Kecamatan Kandanghaur, Didi, mengaku hanya bisa pasrah melihat tanaman padi seluas satu hektare miliknya mengalami kekeringan parah. Padahal, dia sudah mengeluarkan modal tanam yang besar.

‘’Harapannya minta segera dikirimi air yang cukup. Semoga masih bisa terselamatkan,’’ kata Didi.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA