Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

 

Beragam Pilihan Kulineran Saat Lintasi Jalur Pantura Kudus

Senin 20 May 2019 13:30 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Pekerja membuat jenang Kudus di industri rumahan pembuatan jenang di Kudus, Jawa Tengah, Kamis (16/2).

Pekerja membuat jenang Kudus di industri rumahan pembuatan jenang di Kudus, Jawa Tengah, Kamis (16/2).

Foto: ANTARA FOTO
Museum Jenang Kudus bisa menjadi alternatif wisata kuliner saat melewati Kudus.

REPUBLIKA.CO.ID, KUDUS -- Jalur pantai utara Kudus, Jawa Tengah diprediksi mengalami lonjakan arus lalu lintas saat mendekati Lebaran 2019. Jalur ini menjadi perlintasan utama pemudik dari arah Surabaya maupun Jakarta.

Untuk menghilangkan kepenatan selama perjalanan mudik dari Jakarta ke Surabaya atau sebaliknya ketika memasuki jalur pantura Kudus, ada baiknya menyempatkan diri mencari tempat peristirahatan sambil berwisata edukasi atau kuliner di Kota Kudus. Ada beberapa lokasi yang cocok untuk menjadi lokasi wisata kuliner.

Jika sampai di Gerbang Kudus Kota Kretek atau Jembatan Tanggulangin bagi pemudik dari Jakarta, maka arahkan kendaraan tetap lurus hingga jarak 5,2 kilometer. Setelah melewati Alun-alun Kudus arahkan kendaraan menuju Jalan Sunan Kudus kemudian di sisi kiri jalan terdapat Museum Jenang Mubarok.

Bagi pemudik dari arah Surabaya menuju Jakarta, maka ketika sampai pertigaan Ngembalrejo tetap lurus menuju Kota Kudus. Ketika sampai di persimpangan Pentol bisa belok ke kanan kemudian lurus menuju Jalan Sunan Kudus dengan jarak sekitar 4,5 kilometer akan menemukan Museum Jenang Mubarok di sisi kanan jalan.

Di Museum Jenang Kudus, pengunjung akan merasakan hawa sejuk karena di lengkapi pendingin ruangan. Di tempat ini bisa dilihat sejumlah koleksi peralatan pendukung untuk membuat jenang dari yang tradisional hingga modern serta miniatur Menara Kudus.

Pemudik juga bisa memanjakan mata dengan melihat diorama Pasar Bubrah, rumah adat Kudus, hingga foto-foto sejarah Kota Kudus serta koleksi lainnya. Di lokasi yang sama juga tersaji aneka puisi tokoh terkenal serta aneka kerajinan Kota Kudus mulai dari batik, ukir hingga menggiling rokok yang dikemas dalam satu kompleks bernama Gusjigang X-Building .

Museum Jenang Kudus tidak hanya menjadi tempat rekreasi, melainkan bisa menjadi tempat untuk berbuka puasa karena tersedia kafe yang menyajikan menu makanan cepat saji. Aneka makanan ringan juga tersaji, mulai dari kentang goreng, hamburger, siomay, hingga jenang pukis yang merupakan produk baru dari Mubarokfood sebagai produsen jenang khas Kudus.

"Khusus menyambut pemudik luar kota yang ingin transit ke Kota Kudus untuk membeli oleh-oleh khas Kudus, kami menambah jam operasional dari semula pukul 08.00 hingga 21.00 WIB baru tutup, maka khusus momen ini ditambah satu jam menjadi pukul 22.00 WIB tutupnya," kata Manajer Marketing Mubarok Food, Muhammad Kirom di Kudus, Ahad (19/5).

Dalam rangka melayani lonjakan pemudik yang berbelanja oleh-oleh khas Kudus di gerai Mubarok, maka jumlah personel pelayanan juga ditambah untuk memberikan kenyamanan pengunjung. Sementara bagi pengunjung yang ingin berbuka puasa, tersedia kafe yang juga menyajikan pemandangan Kota Kudus maupun lalu lalang kendaraan dari lantai dua.

Menu makanan yang disajikan di kafe tersebut, sengaja diubah demi menyambut pemudik. Dari semula hanya kopi muria, kini ditambah aneka minuman hangat dan dingin, soto hingga makanan cepat saji seperti hamburger, siomay dan kentang goreng.

Ia menilai kafe tersebut memang cocok dijadikan tempat peristirahatan sementara para pemudik, termasuk ketika hendak menunaikan ibadah shalat juga tersedia mushala yang cukup bersih. Mayoritas pengunjung menjelang Lebaran, katanya, merupakan warga luar Kudus yang memang hendak mudik ke kampung halamannya dengan membawa oleh-oleh khas Kudus untuk dibagikan kepada sanak saudaranya.

Hafid, salah seorang pengunjung Museum Jenang Kudus mengakui sengaja membeli oleh-oleh jenang Kudus untuk dibagikan kepada sanak familinya sebelum mudik ke Jakarta, Ahad (19/5). Ia sengaja mudik dari tempat kerjanya di Kabupaten Pati ke Jakarta lebih awal untuk menghindari kemacetan.

Musthofa pemudik asal Jakarta yang kebetulan juga mengunjungi Museum Jenang mengakui tempatnya representatif karena selain ada wisata edukasi dan belanja, juga dilengkapi dengan tempat peribadatan sehingga nyaman untuk pemudik yang hendak beristirahat sejenak.

Baca Juga

Dua anaknya yang ikut berkunjung, kata dia, menjadi paham soal sejarah jenang Kudus serta bisa menikmati sejumlah koleksi, seperti miniatur menara Kudus serta rumah adat tanpa harus menuju ke objek wisata sesungguhnya karena membutuhkan waktu yang lama.

Sentra Kuliner Bojana
Jika belum puas setelah berkunjung ke Museum Jenang, pemudik yang ingin mencicipi menu masakan khas Kudus bisa mengunjungi Taman Bojana. Taman Bojana jaraknya dari museum hanya sekitar 600 meteran menuju arah Alun-alun Kudus.

Lokasinya yang berada di pojok Alun-alun Kudus, cukup strategis bagi pengunjung luar kota yang ingin mencicipi aneka masakan khas Kudus, mulai dari soto, nasi pindang, lontong tahu hingga garang asem. Salah satu penjual nasi pindang dan soto terkenal bagi pemudik luar kota, yakni warung makan Haji Sulichan yang berada di bagian pojok kompleks Taman Bojana.

Musyafak, yang merupakan anak pertama Haji Sulichan, mengakui setiap menjelang Lebaran Taman Bojana memang menjadi tempat transit warga luar kota yang hendak mudik ke kampung halamannya untuk mencicipi makanan khas Kudus. Warung makan yang selalu ramai pengunjung itu sejak awal sudah mempersiapkan bahan baku dalam jumlah banyak demi melayani pemudik yang biasanya singgah ke Taman Bojana berburu kuliner khas Kudus.

"Jika hari biasa hanya masak dua kali, maka menjelang Lebaran saat ramai pemudik bisa meningkat menjadi empat kali masakan," ujarnya.

Upaya tersebut dilakukan karena harus mempersiapkan stok bahan baku untuk membuat nasi pindang maupun soto sejak awal, dengan harapan kualitas masakannya tetap terjaga dan harga jual baku juga tidak mengalami lonjakan yang signifikan. Cita rasa masakannya tetap terjaga.

Salah satunya karena takaran bumbu tetap dan ayam yang digunakan merupakan ayam kampung. Selain itu, proses memasak masih mempertahankan bahan bakar kayu serta dandang untuk memasak yang terbuat dari tanah liat.

Untuk penghangatnya menggunakan kayu arang sehingga penikmat kuliner akan merasakan kelezatan soto maupun nasi pindang buatannya. Menu yang disediakan, mulai dari soto ayam, soto kerbau, nasi pindang ayam dan nasi pindang kerbau dengan harga yang sama untuk satu porsi cukup Rp 15 ribu.

Demi melayani pembeli yang datang silih berganti saat mudik Lebaran nanti, maka karyawannya dibagi menjadi tiga shift jaga mulai dari pagi, siang dan malam. Pemudik yang ingin menikmati menu masakan khas Kudus yang lain, tersedia warung makan di kompleks yang sama mulai dari lontong tahu hingga garang asem, serta kuliner yang bukan khas Kudus juga tersedia karena terdapat banyak warung makan.

Jangan khawatir dengan persoalan tempat parkir, karena di kawasan Taman Bojana tersedia lahan parkir luas untuk menampung mobil pribadi maupun minibus. Bagi pemudik yang hendak melanjutkan perjalanan juga tidak perlu khawatir karena akses jalan di Kota Kudus cukup mudah dan banyak rambu penunjuk jalan serta bisa memanfaatkan "google map" sebagai alternatif.

Sumber : antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES