Monday, 15 Safar 1441 / 14 October 2019

Monday, 15 Safar 1441 / 14 October 2019

Ziarah Pusara, Mudik Ala Warga Betawi

Jumat 07 Jun 2019 21:13 WIB

Red: Ani Nursalikah

Muslim saat melakukan ziarah kubur (ilustrasi).

Muslim saat melakukan ziarah kubur (ilustrasi).

Foto: Republika/Yogi Ardhi
Sebuahu permakaman Betawi berada di antara impitan rumah dan perkantoran di Mampang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pagi belum beranjak di Jalan Mampang Prapatan Raya, Jakarta Selatan. Keadaan jalan raya yang pada hari kerja biasanya dipadati oleh lalu lalang kendaraan, pagi itu justru terlihat sangat lengang. Hanya ada beberapa sepeda motor yang melintasi jalan dan terlihat sekumpulan pemuda bercengkerama di pelataran sebuah minimarket di tepian jalan.

Amir melirik arlojinya yang menunjukkan pukul 06.30 WIB. Lelaki yang dalam kesehariannya bekerja sebagai montir di sebuah bengkel itu berdiri tepat di mulut Gang Mampang Prapatan V yang bermuara di Jalan Mampang Prapatan Raya.

"Saya sedang menunggu dua keluarga yang akan datang dari Cipayung dan Bogor. Biasanya mereka datang sebelum pukul tujuh," kata Amir, membuka perbincangan pagi itu.

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, sepagi itu Amir bertugas menunggui kedatangan saudara-saudaranya yang kini tinggal di luar Kota Jakarta. Pada Kamis itu, 2 Syawal 1440 Hijriyah, bertepatan dengan 6 Juni 2019 atau dua hari setelah Hari Raya Idul Fitri, Amir dan sanak keluarga berencana menziarahi makam leluhurnya.

Secara kasat mata, tidak ada orang yang menyangka kalau Amir dan rombongan keluarganya akan berkunjung ke pusara. Maklum, Mampang Prapatan tergolong kawasan padat permukiman penduduk dan merupakan tempat berdirinya perkantoran.

Namun, di tengah deretan kantor dan impitan rumah kontrakan Gang Mampang Prapatan V, ada sebuah lorong sepanjang 15 meter yang hanya dapat dilalui oleh satu orang. Lorong itu mengarah ke sepetak tanah terbuka seluas lebih kurang lima meter x 10 meter yang tampak baru beberapa hari belakangan dibersihkan dari tumbuhan pengganggu.

Tanah terbuka itu menjadi peristirahatan terakhir kakek Amir yang bernama H. Marzuki bin Anwar dan neneknya Hj. Tasniah. "Permakaman ini sudah ada sejak era 70-an. Selain Babe Marzuki dan Enyak Ntas, ada lima orang lain yang dimakamkan di sini. Salah satunya encing (paman) kami," ujar Amir yang saat itu duduk di sisi makam kakeknya.


sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA