Sunday, 16 Muharram 1441 / 15 September 2019

Sunday, 16 Muharram 1441 / 15 September 2019

Saksi 02 Ungkap DPT Disusun Berdasarkan Data KK Manipulatif

Rabu 19 Jun 2019 15:24 WIB

Rep: Dian Erika Nugraheny/ Red: Andri Saubani

Siluet petugas dengan latar belakang layar daftar KTP palsu yang dijelaskan oleh pihak pemohon pada sidang lanjutan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Rabu (19/6).

Siluet petugas dengan latar belakang layar daftar KTP palsu yang dijelaskan oleh pihak pemohon pada sidang lanjutan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Rabu (19/6).

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Saksi menyabut jumlah data KK yang dimanipulasi mencapai ratusan ribu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Saksi yang diajukan oleh kubu Prabowo-Sandiaga Uno,  Agus Muhammad Maksum, mengungkapkan, adanya data Kartu Keluarga (KK) manipulatif yang digunakan untuk menyusun data pemilih (DPT) Pemilu 2019. Agus mengatakan jumlah data KK yang dimanipulasi mencapai ratusan ribu. 

Baca Juga

"Ada KK manipulatif. Ini adalah satu KK yang berisi lebih. Misalnya ada 1.000 orang (dalam satu KK)," ujar Agus dalam persidangan perkara perselisihan hasil pemilu (PHPU) pilpres di Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat,  Rabu (19/6).

Agus mengatakan, ada empat daerah yang datanya sudah dirangkum. Keempatnya yakni Majalengka, Magelang, Banyuwangi dan Kota Bogor. Agus menyebut data yang dirangkum dari empat daerah itu terdapat 117.333 temuan KK yang dimanipulasi.

Identifikasi KK manipulatif ini, kata Agus, merujuk kepada nomor KK yang tidak valid. "Nomor KK terdiri dari enam angka. Angka pertana menunjukkan wilayah. Dalam kasus di Kota Bogor, enam angka semuanya nol (0) sehingga tidak menunjukkan informasi apa-apa," jelasnya. 

Dia menegaskan, semestinya dalam aturan penulisan sistem informasi administrasi kependudukan (SIAK), enam angka yang ada dalam KK memberikan informasi soal di mana kartu itu dicatat. Namun, karena nomor KK yang tercamtum semuanya nol,  maka tidak menunjukkan apapun. 

Temuan kedua yang menguatkan adanya manipulasi KK, kata Agus, ditemukan dari anggota satu keluarga yang alamatnya berbeda-beda. "Di Bogor ada 1355 anggota keluarga yang alamatnya beda-beda misalnya, di Cikaret, ada di Batutulis, ada yang di Pakuan, di macam-macam. Kan harusnya satu KK ini satu alamat, bapak ibu anak.  Walau jumlahnya mungkin ya banyak ya harus satu alamat. Nah ini di baliknya ada dua (NIK)," tambah Agus. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA