Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Ombudsman: Banyak Bandara Baru yang tidak Efektif

Rabu 19 Jun 2019 23:37 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Suasana Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Majalengka, Jawa Barat yang masih sepi setelah enam bulan beroperasi. Padahal fasilitas dan bangunan yang dibuat sudah bertaraf internasional seperti Terminal 3 Bandara Soetta.

Suasana Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Majalengka, Jawa Barat yang masih sepi setelah enam bulan beroperasi. Padahal fasilitas dan bangunan yang dibuat sudah bertaraf internasional seperti Terminal 3 Bandara Soetta.

Foto: Republika/Rahayu Subekti
Komisioner ORI sebut harga tiket tinggi karena banyak bandara baru yang tak efektif

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Komisioner Ombudsman RI (ORI) Alvin Lie mengatakan salah satu penyebab tingginya harga tiket penerbangan domestik adalah banyaknya pembangunan bandara baru yang tidak efektif.

Baca Juga

"Banyak bandara baru yang tidak efektif. Seharusnya sebelum membangun bandara, harus jelas sasarannya. Konsumen yang dibidik itu segmen pasar apa," kata Komisioner Ombudsman RI Alvin Lie di Jakarta, Rabu (19/6).

Alvin mencontohkan Bandara Kertajati yang dibangun oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebagai salah satu bandara yang tidak efektif meskipun bangunannya modern. "Penumpang dari Kertajati itu bingung mau dari Cirebon atau dari Bandung? Penumpang yang turun di Kertajati mau kemana? Mau ke Cirebon atau ke Bandung?," kata pria yang juga pengamat penerbangan itu.

Ia mengatakan banyak penerbangan domestik yang terpaksa dibuat akibat kurangnya perencanaan bandara baru. "Setelah bandara baru dibuat, colek- colek Kemenhub suruh buat rute ke maskapai karena bandaranya sepi," kata Alvin.

Alvin menjelaskan praktik penerbangan yang rutenya terpaksa dibentuk itu menghasilkan kerugian yang membuat maskapai domestik akhirnya menaikkan harga pada rute yang ramai digunakan oleh masyarakat. Oleh karena itu, Alvin mengatakan pemerintah pusat sebaiknya berfokus pada pembenahan dan penyamarataan tarif maskapai domestik dibanding melirik maskapai asing sebagai solusi.

"Industri udara bukan hanya untuk penerbangan dengan jet tapi juga penerbangan di daerah- daerah yang hanya bisa dijangkau oleh pesawat propeller," kata Alvin.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengeluarkan wacana untuk menarik maskapai asing melayani rute domestik yang diharapkan dapat menurunkan tingginya harga tiket pesawat dalam negeri.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA