Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Panglima TNI Jelaskan Penanganan Kerusuhan 22 Mei pada Ulama

Jumat 21 Jun 2019 03:22 WIB

Red: Bayu Hermawan

Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto

Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto

Foto: Republika/Abdan Syakura
Panglima TNI bertemu dengan puluhan ulama se-Jawa Timur di Ponpes Tebuireng.

REPUBLIKA.CO.ID, JOMBANG -- Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto bertemu dengan puluhan ulama se-Jawa Timur di Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang. Dalam kesempatan itu, Panglima TNI menceritakan tentang penanganan kerusuhan 21-22 Mei 2019 di Jakarta.

"Beberapa waktu lalu, saya memang bertemu dengan Gus Sholah (KH Salahuddin Wahid). Beliau meminta agar saya menyampaikan secara langsung soal kerusuhan di Jakarta kepada para ulama. Alhamdulillah, hari ini saya bisa memenuhi permintaan itu," katanya dalam acara itu di Jombang, Kamis (21/6).

Panglima mengungkapkan sejak awal adanya rencana aksi itu, TNI bersama Polri juga sudah bersiap untuk pengamanan. Dirinya juga menegaskan, dalam penanganan kerusuhan antara TNI dan polri harus tetap solid. Pihaknya juga menambahkan sudah ada informasi akan terjadi kerusuhan, sehingga TNI dengan Polri melakukan persiapan untuk mengatasi dan menanggulangi berbagai macam potensi kerusuhan.

Saat akan aksi, pada 20 Mei 2019, TNI sudah disebar ke berbagai titik, antara lain Bawaslu, KPU, Istana Merdeka, hingga gedung DPR. Untuk keperluan itu, TNI sedikitnya menurunkan 16.000 personel untuk membantu pengamanan di Jakarta dan ditambah dengan personel polisi, sehingga total ada sekitar 35.000 orang.

Dirinya mengungkapkan prediksi akan terjadi kerusuhan ternyata terjadi. Padahal, saat aksi 22 Mei 2019, massa awalnya aksi damai, namun berubah setelah malam hari. Sebelumnya, terdapat sekitar 2.000 orang berorasi di Bawaslu, berlanjut hingga buka bersama, salat maghrib, dan salat tarawih.

Massa membubarkan diri sekitar jam 21.00 WIB. Namun, beberapa jam setelahnya datang sekitar 500 orang. Mereka memprovokasi massa dengan teriakan-teriakan untuk merusak barikade, hingga terjadi kerusuhan. Hal itu terus berlanjut ke sejumlah titik lainnya.

Pihaknya berupaya untuk membubarkan massa, sebab warga sekitar juga resah. Mengingat, warga yang aksi itu bukan penduduk sekitar dan mereka membuat warga sekitar khawatir. Misalnya di Slipi.

"Ada sebagian masyarakat di Slipi resah karena pendemo bukan asli penduduk di sana," katanya.

Aksi berlanjut mulai 22-23 Mei 2019. Petugas juga melakukan pendataan korban baik dari warga sipi dan petugas. Ada hingga 854 orang yang merupakan warga sipil, dimana 108 di antaranya menderita luka bakar, 559 orang luka ringan, 178 korban trauma dan sembilan orang meninggal dunia. Sedangkan, untuk petugas ada 234 personel yang juga mengalami luka. Mereka dirawat dengan berbagai macam luka yang dideritanya.

Hingga kini, kasus itu masih diusut oleh polisi serta Komnas HAM terutama memastikan penyebab kematian warga dalam insiden tersebut. Pihaknya juga sudah komunikasi dengan Kapolri untuk sama-sama memberikan pencerahan kepada jajarannya agar tidak percaya terhadap isu-isu yang tujuannya memecah belah TNI-Polri.

"Dan alhamdulillah sampai sekarang TNI dan Polri tetap solid dan bersatu," kata Panglima.

Dalam kunjungannya ke Pesantren Tebuireng, Panglima disambut Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Gus Sholah. Selain silaturahmi dengan para ulama, Panglima juga ziarah ke makam Presiden Abdurrahaman Wahid (Gus Dur) yang ada di kompleks pesantren. Setelah dialog sebentar, Panglima dan rombongan pamitan.


Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA