Saturday, 19 Rabiul Awwal 1441 / 16 November 2019

Saturday, 19 Rabiul Awwal 1441 / 16 November 2019

Ada 31 Hoaks di NTB selama Sebulan Terakhir

Ahad 23 Jun 2019 22:12 WIB

Rep: Muhammad Nursyamsyi/ Red: Teguh Firmansyah

Hoax. Ilustrasi

Hoax. Ilustrasi

Foto: Indianatimes
Salah satu hoaks yakni video seolah-olah terjadi kerusakan parah usai gempa 18 Juni.

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menerima data dari Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo tentang beredarnya sejumlah berita bohong  atau isu hoaks melalui sejumlah akun media sosial.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) I Gede Putu Aryadi mengatakan, sedikitnya terdapat 31 hoaks yang beredar di media sosial dalam sepekan terakhir.

"Termasuk satu isu hoaks di akun Facebook Archangel Samuel yang mengunggah sebuah video mengerikan seolah-olah telah terjadi kerusakan hebat dan menelan banyak korban akibat bencana gempa bumi 4,6 SR  di Lombok Timur pada 18 Juni 2019," ujar Gede di Mataram, NTB, Ahad (23/6).

Padahal faktanya, kata Aryadi, video tersebut tidak benar sama sekali atau bohong. Gempa saat itu, merupakan getaran kecil yang tidak menimbulkan dampak kerusakan dan korban. "Nah kalau ini dibiarkan dapat menimbulkan ketakutan dan kepanikan masyarakat. Bahkan dapat mempengaruhi tingkat kunjungan wisatawan ke NTB," ucap Gede.

Gede menduga video tersebut merupakan hasil rekayasa atau pernah terjadi di tempat lain, kemudian diposting seolah-olah terjadi di Lombok Timur. "Kalau kita tidak hati-hati dan bijak menerima informasi semacam itu, apalagi ikut memposting akan sangat merugikan kita semua," ungkap Gede.

Gede mengimbau seluruh masyarakat berhati-hati dan waspada menanggapi informasi yang kurang jelas sumbernya yang beredar di media sosial.

"Perlu cek pada sumber-sumber resmi, misalnya melalui situs resmi pihak-pihak terkait, termasuk media arus utama yang dikelola secara profesional dan bertanggung jawab atau laman resmi badan publik," kata Gede menambahkan.


Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA