Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Suhu Udara Yogyakarta Makin Dingin, BMKG Ungkap Penyebabnya

Jumat 21 Jun 2019 22:19 WIB

Red: Nur Aini

Pagi yang dingin/ilustrasi

Pagi yang dingin/ilustrasi

Foto: Pxhere
Suhu udara Yogyakarta bisa mencapai 18 derajat celcius.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Yogyakarta mengingatkan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta akan merasakan udara yang lebih dingin pada malam hingga pagi hari dan bisa mencapai 18 derajat Celcius.

Baca Juga

"Ada beberapa faktor penyebab suhu dingin yang dirasakan masyarakat, di antaranya pada musim kemarau didominasi langit cerah dan tidak ada tutupan awan," kata Kepala Unit Analisa dan Prakiraan Cuaca Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta Sigit Hadi Prakosa di Sleman, Jumat (21/6).

Menurut dia, kondisi tersebut mengakibatkan pelepasan radiasi panas dari bumi ke atamosfer pada malam hari tanpa ada halangan. Sehingga, pantulan panas dari bumi yang diterima dari sinar matahari tidak tertahan oleh awan dan langsung terbuang dan hilang ke angkasa.

"Ini mengakibatkan suhu udara di permukaan bumi cepat mendingin," katanya.

Ia mengatakan, faktor kedua yakni pada bulan Juni benua Australia mengalami musim dingin, hembusan angin dari Australia ke Asia yang melewati Jawa berpengaruh terhadap penurunan suhu udara.

"Hal itu disebut Monsoon Dingin Australia atau pergerakan massa udara dari Australia dengan membawa massa udara dingin dan kering ke Asia dan melawati Indonesia," katanya.

Kemudian faktor ketiga yakni pada bulan Juni posisi matahari dalam gerak semu tahunan berada hampir di garis balik utara atau 23.5 LU. Hal itu berdampak pada menurunnya intensitas radiasi matahari yang diterima wilayah Indonesia bagian selatan. Ditambah lagi kandungan air di dalam tanah menipis, kandungan uap air di udara juga rendah yang dibuktikan dengan rendahnya kelembaban udara.

"Interaksi beberapa faktor inilah yang menyebabkan suhu yang kita rasakan dalam beberapa hari ini terasa lebih dingin," katanya.

Sigit mengatakan, dari pantauan lima hari terakhir, pihaknya mencatat suhu wilayah Yogyakarta berkisar antara 18-20 derajat Celsius.

"Suhu dingin ini kami prediksikan berlangsung hingga Agustus, paling dingin pada 17 Juni lalu dengan suhu mencapai 19 derjat Celcius," katanya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman Joko Hastaryo mengatakan, dengan cuaca dingin ini masyarakat diimbau agar waspada. Sebab, dimungkinkan mengalami gangguan kesehatan seperti asthma bronchiale, radang sendi atau arthritis.

"Usia yang rentan terserang, yang memang ada riwayat asma semua usia. Kalau untuk radang sendi umumnya pada usia dewasa dan ada bakat arthritis, misal kadar asam urat tinggi," katanya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA