Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Warga NTB Diimbau Waspadai Angin Kencang Saat Kemarau

Senin 24 Jun 2019 16:00 WIB

Rep: Muhammad Nursyamsyi/ Red: Christiyaningsih

Angin kencang. Ilustrasi

Angin kencang. Ilustrasi

Angin kencang diprediksi selama musim kemarau mulai Juni, Juli, dan Agustus

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Bandara Internasional Lombok (BIL), Herin Hutri Istyarini, mengimbau masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) mewaspadai angin kencang pada musim kemarau.

"Angin kencang diprediksi selama musim kemarau mulai Juni, Juli, dan Agustus," ujar Herin kepada Republika di Mataram, NTB, Senin (24/6).

Herin menyampaikan secara umum pada musim kemarau maupun puncak musim kemarau pola bergerakan massa udara dan angin berasal dan datang dari sebelah Tenggara (Australia). Menurut Herin, secara klimatologis dan normalnya pola tekanan udara di wilayah Australia lebih tinggi dibandingkan di wilayah Asia pada saat musim kemarau.

Kondisi saat ini di wilayah Australia berkisar 1.012 mb sedangkan di wilayah Asia berkisar 1.006 mb. "Selisih tekanan udara yang cukup besar itulah yang meningkatkan dan menguatkan tarikan massa udara dan kecepatan angin di sekitar Indonesia, terutama di sebelah Selatan Khatulistiwa Indonesia, khususnya Nusa Tenggara," kata Herin.

Dia menambahkan sifat massa udara bergerak dari daerah yang memiliki tekanan udara yang tinggi menuju daerah yang memiliki tekanan lebih rendah. Semakin tinggi selisih tekanan udara antara dua daerah, maka kecepatan gerak massa udara juga akan semakin tinggi.

"Pada 21 Juni pukul 14.00 WITA, bertiup angin kencang di wilayah Bertais, Mataram," ucap Herin.

Herin menjelaskan angin tersebut bersifat lokal dan terjadi disebabkan adanya perbedaan suhu yang tinggi antara daerah dataran tinggi dan daerah dataran rendah. Kondisi ini memicu pola sirkulasi angin secara lokal yang berhembus dengan kecepatan kencang bersifat kering pada siang hari dan dingin pada malam hari.

"Masyarakat selalu waspada terhadap perbedaan suhu pada siang dan malam hari," ucap Herin.

Herin juga mengimbau masyarakat pesisir pengguna transportasi laut mewaspadai adanya gelombang tinggi. Gelombang tinggi diwaspadai terjadi di Selat Lombok Bagian Selatan, Selat Alas Bagian Selatan, Laut Sumbawa, Perairan Selatan Sumbawa, Samudera Hindia Selatan NTB, dan Selat Sape.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA