Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Cerita Pondok Pengayom Satwa tak Lagi Terima Kuburkan Hewan

Rabu 26 Jun 2019 05:02 WIB

Rep: Haura Hafizhah/ Red: Indira Rezkisari

Petugas melakukan perawatan dan penitipan hewan kepada sejumlah kucing yang dititipkan pemiliknya di Pondok Pengayom Satwa Ragunan, Jakarta Selatan, (26/7). (Republika/Rakhmawaty La'lang)

Petugas melakukan perawatan dan penitipan hewan kepada sejumlah kucing yang dititipkan pemiliknya di Pondok Pengayom Satwa Ragunan, Jakarta Selatan, (26/7). (Republika/Rakhmawaty La'lang)

Keterbatasan lahan buat Pondok Pengayom Satwa hanya menerima kremasi hewan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ratusan batu nisan berwarna putih dan hitam menghiasi taman makam di Pondok Pengayom Satwa, Jakarta, Ragunan, Pasar Minggu. Taman ini dinamakan Taman Makam Satwa. Banyak hewan anjing dan kucing dibiarkan berkeliaran di sekitar Pondok Pengayom Satwa termasuk Taman Makam Satwa.

Taman Makam Satwa ini bersebelahan dengan rumah kucing. Di depannya terdapat papan berwarna hijau dengan hiasan gambar bunga bertuliskan “Taman Makam Satwa”.

Taman ini hanya terlihat rapih pada depannya saja sedangkan pada belakang makam terlihat tidak terawat. Rumput dibiarkan meninggi serta daun-daun kering menghiasi makam.

Banyak nisan pada makam tersebut berbentuk unik, seperti, bentuk kelinci, persegi, bulat, dan dihiasi foto hewan tersebut. Di nisan berbentuk persegi beberapa kalimat unik tertulis untuk hewan peliharaan yang sudah mati.

Dokter Hewan Pondok Pengayom Satwa, Hadi Wibowo, mengatakan Pondok Pengayom Satwa sudah berdiri sejak 1987. Selain ada taman makam satwa, ada juga klinik dan kremasi hewan. Namun, sejak dua tahun lalu ia tidak menerima lagi pemakaman hewan.

“Ya lahannya terbatas dan tidak akan diperluas lagi. Jadi, paling ditumpuk bagi yang punya pemakaman di sini. Kalau yang baru mau kuburin hewannya kami sudah tidak menerima,” ucapnya kepada Republika di Pondok Pengayom Satwa, Selasa (25/6).

Walaupun tidak menerima pemakaman hewan lagi tetapi ia menerima untuk kremasi hewan yang sudah tidak bisa ditolong atau meninggal. Dengan ditimbang terlebih dahulu dan dibawa ke ruang kremasi.

“Kami ada ruang khusus kremasi. Untuk harganya dengan berat lima kilogram pertama Rp 170 ribu, lima kilogram berikutnya ditambah Rp 25 ribu. Nanti setelah dikremasi akan diambil abunya ditaruh di kendi,” ucapnya.

Pondok Pengayom Satwa ada di bawah Departemen Pertanian. “Selain lahan terbatas, SDM (Sumber Daya Manusia) kami juga terbatas. Untuk penjaga kucing ada dua orang, penjaga anjing ada lima orang sisanya petuga kebersihan, taman, rekreasi, dan makam. Dokter di sini ada tiga,” ucapnya.

Hadi menambahkan anjing dan kucing yang dipelihara di Pondok Pengayom Satwa ini rata-rata sudah tua. Sehingga jarang yang mengadopsi.

“Kalau adopsi pinginnya kan yang masih kecil. Dis ini juga masih banyak warga yang menitip hewan dan konsultasi di klinik. Walaupun banyak klinik hewan,” ucapnya.

Petugas kremasi dan makam, Tukijo, mengatakan sudah tidak ada lagi yang menguburkan hewan yang sudah mati di taman makam satwa. Sebab, makam tersebut tidak cukup lagi menampung pemakaman hewan.

“Nah, sekarang kremasi saja. Banyak hewan dan kucing yang dikremasi. Ini saya lagi kremasi anjing golden beratnya sekitar 20 kilogram. Kalau anjing dikremasi selama 60 menit kalau kucing 30 menit,” ucapnya sambil menyodok besi ke tempat pembakaran anjing tersebut.

Ia bekerja dari tahun 1992, selama sepuluh tahun ruangan kremasi begitu saja. Tidak pernah ada pembaharuan atau renovasi. Bahkan, ia sempat terkena abu anjing saat sedang kremasi.

“Pernah kan saya kecipratan, kayaknya bagian otak anjing itu meledak. Langsung kena ke wajah saya. Saya langsung cuci muka. Makanya ini saya tidak mau terlalu dekat,” ucapnya.

Ruangan kremasi tersebut menghitam di seluruh temboknya. Jendela dan pintu terbuat dari besi. Di atasnya terdapat cerobong besi. Ruangan itu luasnya sekitar empat kali tiga meter. Terdapat tabung gas dan minyak tanah bahan pendukung untuk membakar hewan.

“Kadang selangnya suka bocor, saya pun langsung ganti. Kalau tidak cepat diganti bisa-bisa kebakaran. Makanya saya selalu tunggu sampai selesai. Di belakangnya saja masih kebun. Ini mah belum tertata rapih,” ucapnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA