Jumat, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 Desember 2019

Jumat, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 Desember 2019

Asita: Sumatra Barat Harus Petakan Kawasan Wisatanya

Rabu 26 Jun 2019 09:21 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Foto udara kendaraan melintas di jalan akses wisata ke Nagari Mandeh, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Selasa (3/7).

Foto udara kendaraan melintas di jalan akses wisata ke Nagari Mandeh, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Selasa (3/7).

Foto: Antara/Iggoy el Fitra
Pemetaan kawasan wisata Sumatra Barat diperlukan agar tak terjadi tumpang tindih.

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Ketua Asosiasi Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Sumatra Barat Ian Hanafiah menilai pemerintah provinsi harus melakukan pemetakan kawasan wisata. Dengan begitu, tumpang tindih bisa terhindarkan.

"Seharusnya pemetaan harus dilakukan namun hingga saat ini hal itu tidak terjadi, padahal potensi pariwisata yang kita miliki cukup besar," kata Ian di Padang, Selasa.

Ian mencontohkan, wisata budaya ada di Kabuapaten Tanah Datar. Sementara itu, kawasan wisata khusus anak muda yang butuh petualangan ada di Kabupaten Solok dan Kabupaten Pesisir Selatan, mulai dari mendaki Gunung Talang, bertualang di kawasan kebun teh, hingga bermalam di gugusan pulau di kawasan Mandeh.

Baca Juga

photo
Desa Terindah. Nagari Tuo Pariangan di Kabupaten Tanah Datar, Sumbar yang dinobatkan sebagai Desa Terindah di dunia oleh Media wisata ternama dari Amerika Serikat Travel Budget.

"Untuk kawasan Mandeh, misalnya, itu cocok untuk anak-anak muda karena mereka menikmati laut dengan berenang, namun untuk orang-orang tua tentu tidak cocok. Hal ini yang harus diketahui oleh pemda setempat," kata dia.

Menurut Ian, perbedaan wisata di setiap daerah akan memberikan warna tersendiri bagi wisatawan yang mengunjungi Sumbar. Ia mengatakan, pemerintah daerah harus bekerja keras untuk menciptakan tema wisatanya sendiri sehingga banyak wisatawan yang datang baik lokal maupun internasional

"Jangan sampai kegiatan Pacu Jawi yang dikenal di Tanah Datar namun dibuat juga di Payakumbuh atau Silek Lanyah yang ada di Kota Padang Panjang dibuat dengan nama berbeda di Solok," ungkapnya.

Kalau perlu, menurut Ian, pemerintah kota dan kabupaten harus menggandeng konsultan secara khusus untuk mengembangkan potensi wisata yang ada di daerah mereka agar lebih baik. Ian mengatakan, pemerintah kabupaten dan kota memiliki semangat untuk mengembangkan potensi wisata daerah mereka namun kebingungan karena tidak tahu apa yang akan mereka buat.

"Mengembangkan destinasi wisata tentu harus sesuai dengan keinginan pasar sehingga setelah melakukan investasi nantinya banyak dikunjungi wisatawan," kata dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA