Sunday, 5 Sya'ban 1441 / 29 March 2020

Sunday, 5 Sya'ban 1441 / 29 March 2020

Kekeringan Ancam Persawahan di Indramayu

Rabu 26 Jun 2019 18:14 WIB

Rep: Lilis Srihandayani/ Red: Karta Raharja Ucu

Petani menyiapkan mesin pompa air di areal persawahan yang mengalami kekeringan di Penganjang, Indramayu, Jawa Barat, Senin (6/8).

Petani menyiapkan mesin pompa air di areal persawahan yang mengalami kekeringan di Penganjang, Indramayu, Jawa Barat, Senin (6/8).

Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
Jika pasokan air tak segera datang, tanaman hanya bertahan hingga akhir Juli

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU -- Areal pertanian di sejumlah daerah di Kabupaten Indramayu dilanda kekeringan, sehingga dikhawatirkan bakal mengancam produksi padi. Tanaman yang kini mengalami kekeringan diperkirakan hanya akan mampu bertahan hingga Juli mendatang.

Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu, Sutatang, menyebutkan, kekeringan yang parah tersebar di Kecamatan Kandanghaur, Losarang, Cikedung, dan Terisi. Rata-rata usia tanaman di wilayah itu di kisaran antara 30-40 hari. "Di usia tanaman seperti itu, lagi butuh banyak air," ujar Sutatang, Rabu (26/6).

Sutatang memperkirakan, jika pasokan air tak segera datang, maka tanaman di daerah-daerah itu kemungkinan hanya mampu bertahan hingga akhir Juli. Karena itu, untuk kepastian puso atau tidaknya tanaman padi, baru bisa diketahui pada Agustus nanti.

Sutatang menyebutkan, luas lahan pertanian yang ada di keempat kecamatan itu ada sekitar 20 ribu hektare. Jika ternyata tanaman tak bisa terselamatkan akibat kekurangan air, maka produksi padi di Kabupaten Indramayu bisa terancam.

"Petani juga pasti akan merugi," tutur Sutatang.

Kekeringan yang melanda areal pertanian di sejumlah daerah di Kabupaten Indramayu menjadi langganan setiap musim kemarau. Namun, kekeringan pada tahun ini dinilai lebih berat dibandingkan tahun sebelumnya.

"Pasokan air di saluran irigasi belum juga tiba," kata Sutatang.

Jika puso sampai terjadi, Sutatang meminta agar pemerintah bisa menyediakan bantuan bagi para petani. Pasalnya, petani dipastikan menanggung kerugian yang besar. Apalagi, musim kemarau akan terus berlangsung hingga beberapa bulan mendatang.

Sementara itu, Ketua KTNA Kecamatan Kandanghaur, Waryono, mengatakan, kekeringan yang melanda lahan pertanian di wilayahnya semakin parah. Menurutnya, petani tak bisa melakukan upaya apapun kecuali menunggu pasokan air.

"Mau nyedot air pakai pompa pun tidak bisa karena sungainya juga sudah kering," keluh Waryono.

Waryono menyebutkan, saat ini ada sekitar 150 hektare tanaman padi di Desa Karangmulya, Kecamatan Kandanghaur, yang sudah dipastikan gagal panen. Selain di Desa Karangmulya, dia menyebutkan, total ada sekitar 1.592 hektare tanaman padi di Kecamatan Kandanghaur yang juga mengalami kekeringan.

Kondisi itu tersebar di sejumlah desa, di antaranya Desa Bulak, Parean Girang, Karanganyar, Wirapanjunan, Wirakanan dan Pranti. Jika pasokan air tak segera datang, maka lahan yang puso bisa bertambah.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA