Senin, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 Desember 2019

Senin, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 Desember 2019

Jejak Kasus '4,8 T' Sjamsul Nursalim

KPK sudah menetapkan Sjamsul Nursalim sebagai tersangka.

Jumat 14 Jun 2019 05:17 WIB

Red: Muhammad Hafil

Sjamsul Nursalim (Ilustrasi)

Foto: Dok Republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID,

Jejak Kasus ‘4,8 T’ Sjamsul Nursalim


*1998-2003

- Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) menandatangani pengambilalihan Bank Dagang Negara Indonesia (BDNI) milik Sjamsul Nursalim.

- Sjamsul wajib menyerahkan asetnya kepada BPPN senilai Rp 47,258 T yang dikurangi aset sejumlah Rp 18,85 T termasuk pinjaman kepada petani tambak Rp 4,8 T.

- Aset senilai Rp 4,8 T itu dinyatakan tergolong macet.

- BPPN menyatakan Sjalim melakukan misrepresentasi dan meminta Sjalim mengganti rugi Rp 4,8 T itu.
- Namun, BPPN dan Sjalim yang diwakili istrinya yaitu Itjih Nursalim melakukan rapat untuk menghapuskan utang Sjalim Rp 4,8 T itu.

*Februari 2004
BPPN melaporkan dan meminta presiden RI agar utang Sjalim Rp 4,8 T itu dihapusbukukan namun tak melaporkan kondisi misrepresentasi Sjalim. Tetapi, pemerintah menolak permintaan BPPN itu.

*12 April 2004
Meski pemerintah menolak, namun kepala BPPN Syafruddin Tumenggung  dan Itjih menandatangani akta perjanjian bahwa Sjalim selalu pemegang saham telah menyelesaikan seluruh kewajibannya.

*26 April 2004
Syafruddin juga membebaskan utang Sjalim senilai Rp 4,8 T itu dan menyebabkan negara mengalami kerugian Rp 4,8 T.


*2017
KPK membuka kasus ini

*24 September 2018
PN Tipikor memvonis Syafruddin Tumenggung hukuman 13 tahun penjara.

10 Juni 2019
KPK menetapkan Sjamsul Nursalim dan istrinya sebagai tersangka.

Sumber: Republika.co.id/KPK, Pengolah Data: Muhammad Hafil, Ilustrator:



  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 

 

IN PICTURES