Thursday, 21 Zulhijjah 1440 / 22 August 2019

Thursday, 21 Zulhijjah 1440 / 22 August 2019

Lahan di Jabar yang Terancam Kekeringan Capai 52.983 hektare

Selasa 02 Jul 2019 20:50 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Muhammad Hafil

Ilustrasi kekeringan.

Ilustrasi kekeringan.

Foto: ANTARA FOTO/Abriawan Abhe
Kekeringan terjadi karena adanya kompetisi perebutan air.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG--Kerusakan irigasi memperluas potensi gagal panen lahan pertanian di Jawa Barat pada musim kemarau. Berdasarkan data Dinas Tanaman Pangan dan Holtikura Jabar per 28 Juni 2019, saat ini tercatat 12.048 hektare lahan telah mengalami dampak dengan klasifikasi rusak ringan, sedang, besar hingga puso.

Baca Juga

Menurut Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Jawa Barat Hendi Jatnika, dari 573.842 hektare lahan pertanian di Jawa Barat sebanyak 52.983 hektare terancam kekeringan pada musim kemarau ini. Sedangkan sebanyak 82 hektare lahan sudah mengalami puso.

"Secara umum, daerah yang mengalami kekeringan adalah areal sawah dengan kondisi irigasi yang rusak," ujar Hendi, kepada wartawan, Selasa (2/7).

Hendi mengatakan, kerusakan sejumlah irigasi tersebut mengakibatkan aliran air tidak mencapai sawah yang letaknya jauh di desa-desa. Sebanyak 82 hektare telah mengalami gagal panen tersebut terjadi di Sukabumi, Cianjur dan Cirebon.

Rinciannya, kata dia, yakni dari 1.108 hektare lahan pertanian di Sukabumi mengalami puso 38 hektare, di Cianjur ada 757 hektare (lahan) dan puso 17 hektare, sedangkan di Cirebon dari luas 871 hektare lahan terdapat 22 hektare mengalami puso.

Faktor lainnya, kata dia, karena lahan yang mengalami kekeringan tersebut berada di kawasan irigasi non teknis. Yakni, meliputi Sawah tadah hujan sehingga sumber air hanya ada pada saat musim hujan.

"Sawah yang terdampak kemarau karena air-nya tidak ada, karena irigasi-nya juga sudah tidak ada airnya, disebabkan debit air dari sumbernya seperti waduk, bendungan, mata air alam, atau lainnya turun drastis," paparnya.

Kekeringan ini terjadi, kata dia, lantaran adanya kompetisi perebutan air dari irigasi yang tidak melulu digunakan untuk pertanian. Namun, lahan peternakan, perikanan hingga industri pun memanfaatkan aliran air tersebut.

"Petani juga masih memaksakan menanam di area persawahan yang ketersediaan airnya tidak bisa dipastikan. Selain itu ketidakdisiplinan petani dalam menetapkan kalender tanam," katanya.

Menurut Hendi, pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi gagal panen pada sejumlah lahan pertanian di Jabar. Salah satunya dengan melakukan standing crops atau menyelamatkan sejumlah tanaman yang telah ada.

"Yang masih memungkinkan dengan pompanizasi kita lakukan pemanfaatannya untuk mempertahankan tanaman yang ada," katanya.

Selain itu, kata dia, pihaknya telah melakukan optimalisasi peranan brigade Alsin atau Unit Pelayanan Jasa Alat (UPJA) Mesin Pertanian. Khususnya dalam memobilisasi bantuan pompa air di wilayah yang terdampak kekeringan. 

"Untuk lahan yang masih memiliki ketersediaan sumber air, bila memungkinkan ditanami palawija atau kacang," pungkasnya. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA