Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Kasus Pelindo, KPK Terus Hitung Kerugian Negara

Rabu 03 Jul 2019 18:18 WIB

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Esthi Maharani

Wakil Ketua KPK Laode M Syarif

Wakil Ketua KPK Laode M Syarif

Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay
Kasus Pelindo sangat tergantung dari kesiapan perhitungan kerugian negara dari BPK

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Laode M Syarif mengatakan saat ini masih melakukan penghitungan kerugian negara terkait kasus dugaan korupsi pengadaan Quay Container Crane (QCC) di Pelindo II tahun anggaran 2010. Sejak Senin (1/7) sampai Rabu (3/7), penyidik KPK memeriksa para saksi yang telah menjerat mantan Direktur Utama Pelindo II Richard Joost Lino.

"Kalau Pelindo sangat tergantung dari kesiapan perhitungan kerugian negara dari BPK. Kalau sudah diterima perhitungannya Insya Allah akan diproritaskan," kata Syarif di Jakarta, Rabu (3/7).

Diketahui, kasus ini ditangani KPK sejak Desember 2015 silam. Namun pengusutan kasus dugaan korupsi di Pelindo II itu belum juga rampung. Penyidik bahkan belum menahan RJ Lino. RJ Lino yang kini menjabat sebagai Komisaris PT JICT terakhir diperiksa penyidik pada 5 Februari 2016 lalu.

KPK menetapkan RJ Lino sebagai tersangka kasus dugaan korupsi proyek pengadaan tiga unit Quay Container Crane (QCC) di Pelindo II. RJ Lino diduga telah menyalahgunakan wewenangnya saat menjadi Dirut Pelindo II untuk memperkaya diri sendiri, orang lain, dan atau korporasi dengan memerintahkan penunjukan langsung perusahaan asal Tiongkok, Wuxi Huangdong Heavy Machinery sebagai pelaksana proyek pengadaan tiga unit QCC.

RJ Lino disangka melanggar Pasal 2 ayat (1) dan atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA