Sabtu, 26 Rabiul Awwal 1441 / 23 November 2019

Sabtu, 26 Rabiul Awwal 1441 / 23 November 2019

Karding: Tak Ada Beda Partai Pemerintah dan Oposisi

Jumat 05 Jul 2019 18:48 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, Abdul Kadir Karding

Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, Abdul Kadir Karding

Foto: Republika TV/Surya Dinata
Karding menilai program maupun kerja partai oposisi dan pemerintah tak jauh beda.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anggota MPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Kadir Karding menilai, belum ada aturan yang jelas dalam konstitusi maupun undang-undang soal posisi partai pemerintah dan partai oposisi . Akibatnya kontrol yang dilakukan terhadap pemerintah juga belum jelas.

"Saat ini, tidak ada bedanya antara partai pemerintah dan partai oposisi karena programnya sama, kerja-kerjanya sama, cuma bedanya yang satu berada di pemerintahan dan satunya lagi di luar pemerintahan," kata Abdul Kadir Karding pada diskusi "Empat Pilar: MPR dalam Sistem Presidensial" di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Jumat (5/7).

Menurut Karding, karena tidak jelas posisi antara partai pemerintah dan partai oposisi, maka kontrol terhadap pemerintah atau check and balance yang dilakukan partai oposisi juga tidak jelas.

Anggota Komisi III DPR RI ini menambahkan, karena program dan kerjanya sama, maka suatu saat partai oposisi bisa saja bergabung dengan pemerintah. Ini mengingat dinamika di dunia politik itu dinamis. "Misalnya, setelah Pemilu 2014, ada partai di luar pemerintah yang kemudian bergabung menjadi partai pemerintah," katanya.

Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma''ruf Amin ini menceritakan, Joko Widodo setelah ditetapkan oleh KPU sebagai presiden terpilih, pada 28 Juni lalu, menyatakan ia sebagai presiden rakyat Indonesia. Jokowi juga mengajak seluruh elemen rakyat Indonesia untuk melakukan rekonsiliasi, bersama-sama membangun bangsa dan negara Indonesia.

"Kalau ada partai di luar pemerintah yang ingin bergabung silakan, tapi ada aturan mainnya. Kalau mau gabung ya gabung saja dan loyal kepada Presiden Jokowi. Jangan mau gabung tapi tidak loyal dan masih bersikap seperti oposisi," katanya.

Sementara itu, anggota MPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (FPAN), Saleh Partaonan Daulay menyatakan, PAN belum memutuskan sikap ingin bergabung dengan pemerintah atau tidak.

Menurut dia, PAN masih akan menyerap aspirasi dari pengurus dan kader di daerah di seluruh Indonesia melalui rapat kerja nasional (Rakernas) yang akan segera diselenggarakan.

"Dari aspirasi kader di daerah, PAN baru akan mengambil sikap, apakah akan bergabung dengan pemerintah atau berada di luar pemerintah," katanya.

Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA