Sabtu, 17 Zulqaidah 1440 / 20 Juli 2019

Sabtu, 17 Zulqaidah 1440 / 20 Juli 2019

Meninggalkan Jakarta untuk Mengabdi di Tanah Kelahiran

Sabtu 06 Jul 2019 20:45 WIB

Rep: Mas Alamil Huda/ Red: Agung Sasongko

Elok Galih Karuniawati

Elok Galih Karuniawati

Foto: Dok Elok Galih Karuniawati
Keputusan mencalonkan diri sebagai kades bukan tanpa pengorbanan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- “Saya ingin mempunyai usaha agrobisnis di desa saya, Bu.” Elok Galih Karuniawati tak pernah melupakan pernyataannya itu. Kalimat tersebut ia ucapkan saat duduk di bangku kelas satu SMA untuk menjawab pertanyaan kepala sekolahnya. Peristiwa itu terjadi saat Elok hendak berangkat menjadi wakil dari Kabupaten Tulungagung dalam ajang siswa berprestasi Jawa Timur.

Cita-cita itu kini ia coba wujudkan dengan mencalonkan diri sebagai kepala desa (kades). Namanya terdaftar sebagai calon kades di Desa Nglutung, Kecamatan Sendang. Dalam pemilihan kepala desa (pilkades) yang digelar 9 Juli, nama Elok tercatat sebagai calon kades termuda di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Usianya kini 30 tahun.

Keputusan mencalonkan diri sebagai kades bukan tanpa pengorbanan. Bekerja di sebuah perusahaan minyak multinasional dengan penghasilan serba berkecukupan di Jakarta tak mampu mengikis cita-citanya untuk mengabdikan diri ke masyarakat. Gaji belasan juta rupiah pun dia tinggalkan. Baginya, harta bukan tujuan hidupnya.

“Saya menjadi calon kepala desa bukan untuk mengejar materi dan kehormatan, tapi saya kembali (ke desa) untuk mengabdi di tanah kelahiran saya. Saya masih muda, punya optimisme dan ingin menorehkan prestasi untuk Desa Nglutung ini,” kata Elok kepada Republika, beberapa waktu lalu.

Memimpin sebuah desa dengan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakatnya tentu butuh kepiawaian. Perkembangan teknologi yang kini sudah bisa dirasakan masyarakat di desa harus dimanfaatkan. Untuk itu, butuh pemimpin dengan ide baru dan wawasan luas serta punya jiwa kepemimpinan.

Bakat kepemimpinan Elok sudah terlihat sejak SMA. Dia memimpin berbagai kegiatan di sekolahnya. Kemampuan itu kian terasah ketika dia masuk di perguruan tinggi, yakni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Sebagai mahasiswa Program Studi Geologi, Jurusan Fisika, Elok terpilih sebagai President of American Association of Petroleum Geologist Student Chapter ITS (AAPG SC ITS). Saat itu dia baru menjadi mahasiswa semester 4.

Di waktu yang hampir bersamaan, dia juga dipercaya sebagai sekretaris di Society of Exploration Geophysicist Student Section of ITS (SEG SS ITS). Keduanya merupakan organisasi tingkat internasional.

Organisasi yang dipimpinnya membawanya ke Oklahoma, Amerika Serikat pada 2009. Elok menjadi tamu undangan sebagai perwakilan wilayah Asia-Pasifik dalam ajang 29th Annual AAPG Leadership Conference. AAPG adalah organisasi profesi internasional yang berdiri sejak tahun 1917. Saat ini, organisasi itu telah memiliki ribuan anggota yang tersebar di 116 negara.

Selama sekitar satu minggu, 150 peserta dari berbagai belahan dunia hadir dan berdiskusi seputar AAPG pada masa globalisasi. Dalam acara itu, ia menjadi peserta termuda. Sisanya adalah orang-orang profesional atau mereka yang minimal bergelar master.

Berbagai prestasi yang ditorehkannya dari SMA, kuliah, hingga bekerja sebagai karyawan di perusahaan minyak multinasional lantas membuatnya merenung pada suatu ketika. “Akan ke mana dan untuk apa hidup saya,” ujar Elok mengingat peristiwa sebelum dia memutuskan kembali untuk mengabdi ke kampung halaman.

Elok lantas ingat orang tuanya di rumah yang bekerja sebagai petani. Ada ratusan petani lain di Desa Nglutung. Ia tak lupa bagaimana ia hampir putus sekolah selepas lulus SMP karena tak ada kepastian dana. Tapi beberapa gurunya mengusahakan perpanjangan beasiswa itu melihat rekam jejak prestasi Elok di atas rata-rata.

Akhirnya, ia lanjut sampai bisa bersekolah di salah satu SMA favorit di Tulungagung. Ia pun jadi juara umum di sekolah sampai kemudian mengikuti seleksi beasiswa dan masuk di ITS Surabaya.

Tapi Elok bukanlah tipe manusia yang lupa kacang akan kulitnya. Mimpi terbesar dalam hidupnya adalah kembali ke desa dan membangun pertanian desanya. Dia tak lupa saat menjawab pertanyaan kepala sekolahnya 14 tahun lalu, yakni bercita-cita mempunyai usaha agrobisnis sekaligus menyejahterakan petani di desanya.

“Saya punya impian, suatu saat nanti petani di sini (Desa Nglutung) yang memasok komoditas di retail-retail besar semacam Carrefour atau Superindo,” ujar Elok.

Untuk memperbaiki pertanian di kampungnya, banyak hal yang harus dilakukan. Elok mengaku sudah memetakan berbagai persoalan yang dihadapi para petani di Desa Nglutung. Bahkan sampai pada hal-hal detail terkait teknis perbaikan.

Menurut Elok, yang paling penting adalah memperbaiki saluran irigasi. Sampai saat ini, dia menilai, saluran irigasi belum maksimal. Semua infrastruktur pertanian harus diperbaiki. Hal itu mutlak dilakukan jika ingin menggenjot perbaikan petanian di Desa Nglutung.

Selain itu, Elok mengatakan, jalan-jalan desa yang dinilainya belum layak juga harus diperbaiki. Pembuatan jalan sawah untuk kemudahan akses kendaraan bermotor juga perlu untuk memudahkan para petani. Dia meyakini, semua itu bisa dilakukan dengan besarnya dana desa yang jumlahnya miliaran rupiah per tahun.

Dan yang tak kalah penting, adalah doa dari masyarakat. “Saya mohon doanya, saya hanya ingin masyarakat di tanah kelahiran saya ini bisa lebih baik dan sejahtera,” ujar Elok.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA