Thursday, 26 Jumadil Akhir 1441 / 20 February 2020

Thursday, 26 Jumadil Akhir 1441 / 20 February 2020

Kisah Ombilin di Sawahlunto Diharap Dicontoh Daerah Lain

Sabtu 06 Jul 2019 20:30 WIB

Rep: Inas Widyanuratikah/ Red: Muhammad Hafil

Seorang pemandu menunjukkan dinding-dinding berbahan batubara asli di Lubang Mbah Suro, Kota Sawahlunto, Sumbar, Jumat (10/6). Lubang Mbah Suro merupakan lubang pertama dibuka oleh Kolonial Belanda pada tahun 1898 dengan panjang 1,5 kilometer, di lubang itu memiliki kandungan batubara paling bagus dengan kalori 7000 dibandingkan daerah lain. Kini lubang itu menjadi objek wisata andalan kota Sawahlunto.

Seorang pemandu menunjukkan dinding-dinding berbahan batubara asli di Lubang Mbah Suro, Kota Sawahlunto, Sumbar, Jumat (10/6). Lubang Mbah Suro merupakan lubang pertama dibuka oleh Kolonial Belanda pada tahun 1898 dengan panjang 1,5 kilometer, di lubang itu memiliki kandungan batubara paling bagus dengan kalori 7000 dibandingkan daerah lain. Kini lubang itu menjadi objek wisata andalan kota Sawahlunto.

Foto: Antara
Sawahunto ditetapkan sebagai warisan budaya dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menyambut baik penetapan tambang batu bara masa kolonial Ombilin di Sawahlunto, Sumatra Barat sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO. Hetifah berharap dengan penetapan tersebut dapat menjadi edukasi bagi daerah lain dalam mengelola lokasi tambang.

"Kita ingin ini jadi pembelajaran di wilayah lain di di Indonesia dan dunia. Bagaimana mengelola lingkungan dan area tambang itu agar tidak seperti daerah yang dieksploitasi. Jadi bukan peninggalan yang positif tapi peninggalan yang negatif," kata Hetifah pada Republika.co.id, Sabtu (6/7).

Ia mencontohkan di wilayah Kalimantan Timur, banyak tempat yang menjadi tambang batu bara. Namun, ia menilai pengelolaannya tidak baik sehingga tidak menarik dan justru berbahaya bagi masyarakat sekitar.

"Tambang itu mungkin banyak juga yang menjadi pelajaran bagi daerah lain misalnya daerah di Kaltim, kan banyak tambamg batu bara yang mungkin dibiarkan terbengkalai," kata dia.

Ia mengatakan, di Sawahlunto tambang batu bara zaman kolonial bisa dimanfaatkan sebagai tempat wisata bahkan menjadi warisan budaya dunia. Ia berharap, wilayah pertambangan lain bisa menirunya sehingga daerah tambang yang berpotensi menjadi kota mati bisa dikembangkan sebagai lokasi wisata dan pusat sejarah serta budaya.

Menurut dia, daerah-daerah pertambangan seharusnya bisa dikelola sebagai tempat yang berwawasan lingkungan. Sehingga, bukan hanya manfaat ekonomi yang didapat namun masyarakat juga mendapatkan manfaat dalam bentuk budaya.

"Nah efek sejarahnya itu harus jadi pembelajaran. Daerah tambang di daerah lain harus dikelola dengan cara yg berkelanjutan dan berwawasan lingkungan," kata dia lagi.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA